Pada suatu hari yang cerah, sinar senja tampak cantik di langit sebelah barat. Sayangnya, senja yang indah itu tak seindah dengan apa yang terjadi di daratan, karena terjadi hal yang luar biasa di sebuah pantai. Tampak ribuan bintang laut tergeletak di sepanjang garis pantai. Sebuah hal yang tidak biasa, karena bintang laut sangat jarang ditemukan di sepanjang pantai, apalagi dalam jumlah ribuan. Ini semacam kejadian alam.
Seorang peselancar melihat ribuan bintang laut dengan wajah bingung, tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan bintang laut tersebut ke habitatnya. Tak butuh waktu lama hingga sang peselancar mengambil sebuah bintang laut lalu melemparnya ke arah laut. Satu persatu bintang laut dilempar agar bisa kembali ke habitatnya.
Ada seorang pemuda yang menyaksikan hal itu, dia mengatakan, "Kau pasti sudah gila! Percuma saja kau lakukan itu, jumlah bintang laut terlalu banyak. Yang kau lakukan tidak akan membuat perubahan apapun,"
Sang peselancar tetap melakukan aksinya melempar satu persatu bintang laut ke arah laut. Kemudian dia berhenti sebentar, menatap sang pemuda lalu meraih satu bintang laut, "Tentu saja aku telah membuat satu perubahan, untuk bintang laut yang satu ini," kemudian bintang laut itu terlempar dan kembali ke habitatnya.
Sahabat, jika ada kebaikan yang bisa Anda lakukan, sekecil apapun, maka lakukanlah. Sekalipun di depan mata tak tampak perubahannya, kebaikan sekecil apapun akan membawa perubahan bagi yang menerimanya.
Sebuah perubahan tak harus dilakukan dalam skala besar. Dalam skala kecil, perubahan sekecil apapun sangat berarti. Sumber
Minggu, 19 Februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
Malaikat Tanpa Sayap
Vino (Adipati Dolken) tidak terlalu dekat dengan keluarga apalagi setelah papanya, Amir (Surya Saputra) bangkrut akibat ditipu rekan bisnisnya hingga mereka pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakan di gang. Mamanya, Mirna (Kinaryosih) justru kabur dari rumah, bahkan tega meninggalkan Wina (Geccha Qheagaveta), putrinya yang berusia 5 tahun. Suatu ketika Wina terjatuh di kamar mandi dan dari hasil rontgen Wina diharuskan menjalani operasi, kalau tidak kakinya infeksi dan harus diamputasi. Wina membutuhkan transfusi darah karena pendarahan, sementara golongan darah Wina cukup langka; A rhesus negatif. Vino yang mempunyai golongan darah yang sama, mengajukan diri. Saat itulah, Calo (Agus Kuncoro) yang sedang mencari pendonor jantung mendengar hal itu menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino. Di rumah sakit itu pula Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda). Sejak Sejak itu Vino merasa hidupnya berwarna. Vino yang awalnya sempat putus asa hingga bertransaksi dengan Calo, mulai goyah. Ia tidak mau mendonorkan jantungnya namun hal itu membuat Calo marah besar. Mengapa Calo sangat marah kepada Vino? Siapakah sebenarnya resipien yang Calo maksudkan?
Genre : Drama
Release Date: 9 Februari 2012
Produser : CHAND PARWEZ SERVIA
Produksi : PT. KHARISMA STARVISION PLUS
Pemain : Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Surya Saputra, Ikang Fawzi, Kinaryosih, Agus Kuncoro, Geccha Qheagaveta
Sutradara : RAKO PRIJANTO
Bersatu Menghasilkan Sesuatu
Di dalam bengkel tukang kayu berkumpullah alat-alat pertukangan untuk mengadakan suatu rapat. Saudara Palu duduk di atas kursi dengan maksud hendak memimpin sidang. Ternyata alat-alat yang lain menuntut agar ia mengundurkan diri saja sebab di dalam bengkel itu ialah yang paling banyak menimbulkan suara-suara gaduh.
“Baik,” kata Palu, “saya tunduk kepada putusan dan alasan kalian. Tetapi saya hendak menyatakan bahwa saudara Bor juga harus ditindak sebab tugasnya hanya menimbulkan lubang-lubang saja.”
Saudara Bor bangkit berdiri, “Baik, saya tunduk pada pendapat kalian. Namun saya hendak menyatakan bahwa saudara Obeng pun harus disingkirkan, sebab ia harus diputar terus-menerus dengan sepenuh tenaga untuk dapat bekerja dengan baik.”
Saudara Obeng berdiri dan berkata,” Izinkanlah saya mengemukakan pendapat saya. Kalau kalian kehendaki agar saya pergi, baiklah, tetapi saudara Serut (Sugu) juga harus pergi sebab ia hanya mengenal pekerjaan di permukaan saja. Tidak ada sesuatu yang mendalam padanya.”
Saudara Serut bangun berdiri dan menyambut, “Saya tuntut agar saudara Penggaris juga disingkirkan sebab pekerjaannya tidak lain hanya mengukur-ngukur pihak lain saja, seolah-olah dirinya sajalah yang terbaik.”
Saudara Penggaris bangkit dan protes, “Saya tidak dapat diam. Saudara Amplas juga harus menyingkir dari tempat ini sebab pekerjaannya terlalu kasar. Ia selalu menggosok pihak lain sehingga semuanya kacau balau.”
Di tengah-tengah rapat yang mulai menjadi panas, tiba-tiba berjalan masuk Tukang Kayu. Ia akan bekerja pada hari itu. Ia memerlukan semua alat palu, bor, obeng, serut, penggaris, dan amplas. Semua dipakai oleh Tukang Kayu untuk membuat sebuah perabot. Ketika perabot itu jadi, tidak ada satu nama pun yang merasa dirinya berjasa, karena mereka semua telah bekerja sama di dalam tangan Tukang Kayu itu dan masing-masing menyadari tanpa alat yang lain pekerjaan tidak mungkin selesai dan sempurna. Sumber
“Baik,” kata Palu, “saya tunduk kepada putusan dan alasan kalian. Tetapi saya hendak menyatakan bahwa saudara Bor juga harus ditindak sebab tugasnya hanya menimbulkan lubang-lubang saja.”
Saudara Bor bangkit berdiri, “Baik, saya tunduk pada pendapat kalian. Namun saya hendak menyatakan bahwa saudara Obeng pun harus disingkirkan, sebab ia harus diputar terus-menerus dengan sepenuh tenaga untuk dapat bekerja dengan baik.”
Saudara Obeng berdiri dan berkata,” Izinkanlah saya mengemukakan pendapat saya. Kalau kalian kehendaki agar saya pergi, baiklah, tetapi saudara Serut (Sugu) juga harus pergi sebab ia hanya mengenal pekerjaan di permukaan saja. Tidak ada sesuatu yang mendalam padanya.”
Saudara Serut bangun berdiri dan menyambut, “Saya tuntut agar saudara Penggaris juga disingkirkan sebab pekerjaannya tidak lain hanya mengukur-ngukur pihak lain saja, seolah-olah dirinya sajalah yang terbaik.”
Saudara Penggaris bangkit dan protes, “Saya tidak dapat diam. Saudara Amplas juga harus menyingkir dari tempat ini sebab pekerjaannya terlalu kasar. Ia selalu menggosok pihak lain sehingga semuanya kacau balau.”
Di tengah-tengah rapat yang mulai menjadi panas, tiba-tiba berjalan masuk Tukang Kayu. Ia akan bekerja pada hari itu. Ia memerlukan semua alat palu, bor, obeng, serut, penggaris, dan amplas. Semua dipakai oleh Tukang Kayu untuk membuat sebuah perabot. Ketika perabot itu jadi, tidak ada satu nama pun yang merasa dirinya berjasa, karena mereka semua telah bekerja sama di dalam tangan Tukang Kayu itu dan masing-masing menyadari tanpa alat yang lain pekerjaan tidak mungkin selesai dan sempurna. Sumber
Curahan Hati Kendi Yang Retak
Kita bisa memberi penghidupan dan berguna bagi orang lain dalam kondisi yang kurang atau tidak sempurna. Di India, seorang wanita tua bekerja sebagai pengambil air di dalam kendi. Setiap pagi, wanita ini mengambil air bersih dari sumur yang sangat jauh untuk dijual pada keluarga kaya. Dia membawa dua buah kendi yang dihubungkan dengan kayu dan tali. Satu kendi berbentuk sempurna, sedangkan kendi yang satunya sedikit retak.
Wanita itu tahu bahwa salah satu kendinya retak, tetapi dia membiarkan saja hal itu. Setiap kali selesai membawa air, kendi yang sempurna tetap berisi air yang penuh, sedangkan kendi yang retak hanya terisi separuh air walaupun saat diisi, dia penuh terisi oleh air sumur. Hal itu terus terjadi selama lebih dari satu tahun.
Perbedaan ini membuat si kendi yang sempurna tanpa cacat merasa bangga, dia bisa menampung air dengan sempurna selama lebih dari satu tahun. Hal itu membuat si kendi yang retak merasa tak berguna dan sungkan, dia berkata pada sang wanita tua, "Maafkan aku, aku tidak berguna dan selalu menjatuhkan air,"
Sang wanita tua tersenyum dan mengatakan pada kendi yang retak, "Apa maksudmu kamu tidak berguna? Memang, setiap kali aku sampai di rumah saudagar kaya, air di dalam tubuhnya hanya tersisa setengah. Tetapi kau telah memberi penghidupan pada bunga-bunga di sepanjang perjalanan tempat aku mengambil air."
Sang kendi tampak heran.
"Aku tahu kondisimu yang selalu menetaskan air sepanjang perjalanan, maka aku menabur beberapa benih tanaman di sepanjang jalan. Kaulah yang menyirami mereka setiap hari hingga tumbuh dan berkembang menjadi bunga-bunga yang cantik. Bagaimana kau bisa menganggap hal itu tidak berguna?" Sumber
Wanita itu tahu bahwa salah satu kendinya retak, tetapi dia membiarkan saja hal itu. Setiap kali selesai membawa air, kendi yang sempurna tetap berisi air yang penuh, sedangkan kendi yang retak hanya terisi separuh air walaupun saat diisi, dia penuh terisi oleh air sumur. Hal itu terus terjadi selama lebih dari satu tahun.
Perbedaan ini membuat si kendi yang sempurna tanpa cacat merasa bangga, dia bisa menampung air dengan sempurna selama lebih dari satu tahun. Hal itu membuat si kendi yang retak merasa tak berguna dan sungkan, dia berkata pada sang wanita tua, "Maafkan aku, aku tidak berguna dan selalu menjatuhkan air,"
Sang wanita tua tersenyum dan mengatakan pada kendi yang retak, "Apa maksudmu kamu tidak berguna? Memang, setiap kali aku sampai di rumah saudagar kaya, air di dalam tubuhnya hanya tersisa setengah. Tetapi kau telah memberi penghidupan pada bunga-bunga di sepanjang perjalanan tempat aku mengambil air."
Sang kendi tampak heran.
"Aku tahu kondisimu yang selalu menetaskan air sepanjang perjalanan, maka aku menabur beberapa benih tanaman di sepanjang jalan. Kaulah yang menyirami mereka setiap hari hingga tumbuh dan berkembang menjadi bunga-bunga yang cantik. Bagaimana kau bisa menganggap hal itu tidak berguna?" Sumber
Pasti Ada Yang Bisa Kita Berikan
Dexter berusia 12 tahun ketika orangtuanya kehilangan pekerjaan. Setelah berbulan-bulan berjuang, keluarganya menjadi tunawisma. Gereja menjadi tempat mereka berlari mencari perlindungan. Dexter kewalahan oleh keputusasaan yang terinfeksi penduduk setempat. Dia tahu pasti ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki keadaan di sana, khususnya bagi anak-anak.
Suatu hari, ketika ia menjelajahi gedung, Dexter tiba di beberapa kamar yang tidak terpakai. Dia berpikir kamar tersebut menjadi sebuah pusat belajar yang besar untuk anak-anak yang tinggal di tempat penampungan. Beberapa dari mereka tinggal di penampungan yang berbeda sehingga mereka bahkan tidak pernah pergi ke sekolah.
Dexter menyukai sekolah dan ia menyukai bila membantu anak-anak lain mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dengan beberapa buku tua yang disumbangkan oleh kepala sekolah dan bimbingan direktur di tempat penampungan, Dexter memulai memberikan les bagi anak-anak gelandangan lainnya.
Hal yang paling sulit hidup di penampungan, mengucapkan selamat tinggal kepada “siswa”-nya ketika keluarga mereka pindah. Ketika akhirnya keluarga Dexter bisa pindah ke tempat mereka sendiri, dia membuat rencana akan tetap kembali ke tempat penampungan untuk bekerja dengan anak-anak yang masih ada. Ia juga mulai menjadi sukarelawan di lingkungan tempat tinggalnya yang baru.
“Orang selalu membantu saya,” kata Dexter. “Jadi saya pikir sudah waktunya untuk memberikan sesuatu kembali.”
Cerita Dexter menginspirasi kita, untuk menjangkau dan menjadi pelayan masyarakat di sekeliling kita. Anda mungkin tidak memiliki uang lebih, tetapi sebuah buku yang bisa digunakan, atau pakaian lama yang sudah tidak Anda pakai lagi, atau hanya beberapa menit waktu untuk memahami orang dengan penuh kasih, sangat berarti bagi seseorang yang membutuhkan. (Bits&Pieces) Sumber
Suatu hari, ketika ia menjelajahi gedung, Dexter tiba di beberapa kamar yang tidak terpakai. Dia berpikir kamar tersebut menjadi sebuah pusat belajar yang besar untuk anak-anak yang tinggal di tempat penampungan. Beberapa dari mereka tinggal di penampungan yang berbeda sehingga mereka bahkan tidak pernah pergi ke sekolah.
Dexter menyukai sekolah dan ia menyukai bila membantu anak-anak lain mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dengan beberapa buku tua yang disumbangkan oleh kepala sekolah dan bimbingan direktur di tempat penampungan, Dexter memulai memberikan les bagi anak-anak gelandangan lainnya.
Hal yang paling sulit hidup di penampungan, mengucapkan selamat tinggal kepada “siswa”-nya ketika keluarga mereka pindah. Ketika akhirnya keluarga Dexter bisa pindah ke tempat mereka sendiri, dia membuat rencana akan tetap kembali ke tempat penampungan untuk bekerja dengan anak-anak yang masih ada. Ia juga mulai menjadi sukarelawan di lingkungan tempat tinggalnya yang baru.
“Orang selalu membantu saya,” kata Dexter. “Jadi saya pikir sudah waktunya untuk memberikan sesuatu kembali.”
Cerita Dexter menginspirasi kita, untuk menjangkau dan menjadi pelayan masyarakat di sekeliling kita. Anda mungkin tidak memiliki uang lebih, tetapi sebuah buku yang bisa digunakan, atau pakaian lama yang sudah tidak Anda pakai lagi, atau hanya beberapa menit waktu untuk memahami orang dengan penuh kasih, sangat berarti bagi seseorang yang membutuhkan. (Bits&Pieces) Sumber
Kapan Harus Berkata Cukup
Ketika harus berurusan dengan orang lain, ada baiknya mengenali perbedaan pada diri kita. Akan tetapi, tanpa menghiraukan perbedaan itu, ada baiknya untuk mengetahui apa yang bisa kita terima dan apa yang tidak.
Pelatih John Wooden pernah punya pemain, Jack Hirsch, yang memiliki kepribadian agak sembrono dan urakan. Hirsch adalah satu-satunya anggota tim yang memanggil Wooden dengan sebutan “John”.
Wooden menyadari Hirsch kurang memiliki sopan santun. Tak ada rasa hormat di setiap perilaku Hirsch. Namun, ketika Hirsch melakukan perbuatan yang sudah melewati ambang batas untuk diterima dalam sebuah pergaulan pada umumnya, Wooden sadar. Ia lalu cepat bertindak.
Suatu hari, ketika tim itu makan malam, Hirsch berdiri dan berkata, “Saya tidak bisa minum air kotor ini.”
Segera Wooden menahan Hirsch dan menangguhkannya untuk keluar dari barisan. Hirsch tidak diizinkan kembali bersama tim sampai ia bisa meminta maaf atas perilakunya.
Butuh waktu sekitar dua minggu, tetapi ketika kembali ke tim, Hirsch mempunyai sikap baru. (Bits&Pieces)
Sumber
Pelatih John Wooden pernah punya pemain, Jack Hirsch, yang memiliki kepribadian agak sembrono dan urakan. Hirsch adalah satu-satunya anggota tim yang memanggil Wooden dengan sebutan “John”.
Wooden menyadari Hirsch kurang memiliki sopan santun. Tak ada rasa hormat di setiap perilaku Hirsch. Namun, ketika Hirsch melakukan perbuatan yang sudah melewati ambang batas untuk diterima dalam sebuah pergaulan pada umumnya, Wooden sadar. Ia lalu cepat bertindak.
Suatu hari, ketika tim itu makan malam, Hirsch berdiri dan berkata, “Saya tidak bisa minum air kotor ini.”
Segera Wooden menahan Hirsch dan menangguhkannya untuk keluar dari barisan. Hirsch tidak diizinkan kembali bersama tim sampai ia bisa meminta maaf atas perilakunya.
Butuh waktu sekitar dua minggu, tetapi ketika kembali ke tim, Hirsch mempunyai sikap baru. (Bits&Pieces)
Sumber
Prasangka Yang Bikin Ketakutan
Suatu malam, Untung sedang kumpul-kumpul dengan keluarganya dan saling bercerita. Karena haus, Untung pergi ke dapur hendak membuat teh manis. Hujan turun rintik-rintik dengan desir angin yang agak kencang.
Tiba-tiba Untung mendengar suara seperti bayi menangis di belakang rumahnya, yang memang penuh dengan rumpun bambu. Dasar penakut, bulu kuduknya berdiri. Diperhatikan suara itu semakin keras dan semakin membuat Untung gemetar ketakutan. Tidak tahan dengan suasana itu Untung lari ke depan rumah tempat keluarganya sedang ngobrol.
“Ad ... ad ... Ada bba ... ba .. bayi nangis dd .. di belakang rumah!” kata Untung terbata-bata, penuh ketakutan.
Spontan adik-adik Untung ikut ketakutan.
Sang bapak langsung mengecek ke belakang rumah mereka.
Dia hanya tersenyum ketika menyaksikan bahwa suara itu ternyata bukan suara bayi, melainkan suara kucing yang sedang memadu asmara.
Untung pun tersipu malu setengah tidak percaya.
Kita kerap kali takut menghadapi sesuatu. Kerap kali ketakutan itu terjadi karena kita sudah mempunyai bayangan-bayangan, praduga-praduga, prasangka-prasangka buruk terhadap kenyataan yang ada di luar diri kita. Pandangan yang buruk, negatif, dan tidak baik terhadap sesuatu yang berada di luar diri kita (lingkungan, orang lain, dsb) membuat diri kita terjerat oleh perasaan kita sendiri dan membuat kita tidak bisa berkembang secara wajar dan benar. Sumber
Tiba-tiba Untung mendengar suara seperti bayi menangis di belakang rumahnya, yang memang penuh dengan rumpun bambu. Dasar penakut, bulu kuduknya berdiri. Diperhatikan suara itu semakin keras dan semakin membuat Untung gemetar ketakutan. Tidak tahan dengan suasana itu Untung lari ke depan rumah tempat keluarganya sedang ngobrol.
“Ad ... ad ... Ada bba ... ba .. bayi nangis dd .. di belakang rumah!” kata Untung terbata-bata, penuh ketakutan.
Spontan adik-adik Untung ikut ketakutan.
Sang bapak langsung mengecek ke belakang rumah mereka.
Dia hanya tersenyum ketika menyaksikan bahwa suara itu ternyata bukan suara bayi, melainkan suara kucing yang sedang memadu asmara.
Untung pun tersipu malu setengah tidak percaya.
Kita kerap kali takut menghadapi sesuatu. Kerap kali ketakutan itu terjadi karena kita sudah mempunyai bayangan-bayangan, praduga-praduga, prasangka-prasangka buruk terhadap kenyataan yang ada di luar diri kita. Pandangan yang buruk, negatif, dan tidak baik terhadap sesuatu yang berada di luar diri kita (lingkungan, orang lain, dsb) membuat diri kita terjerat oleh perasaan kita sendiri dan membuat kita tidak bisa berkembang secara wajar dan benar. Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)





