Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Per Aspera ad Astra

Seorang pemuda duduk sendirian di tepi pantai. Ia menatap sedih ombak yang berkejaran tiada henti. Ombak merasa iba terhadap si pemuda.
“Sahabat, mengapa engkau tampak pilu sepanjang hari?”
“Ah, aku sedang merenung dan mencari jalan keluar supaya dapat hidup lepas dari penderitaan. Aku ingin sepertimu, yang sepanjang hari menari dan berkejaran tanpa henti. Bagaimana engkau bisa demikian, wahai Ombak?”
“Karena aku bahagia.”
“Bagaimana engkau dapat bahagia?”
“Ikutilah perjalanan air dari hulu hingga ke hilir, maka kamu akan merasakan perjalanan hidupku yang bahagia di samudera yang luas ini.”
“Jadi, saya harus menyusuri sungai yang berkelok-kelok dan penuh bebatuan?”
“Kalau aku dahulu tidak mau melewati jalan seperti itu, mana bisa aku sampai ke samudera ini?”
Per aspera ad astra, kata pepatah Latin. Artinya sama dengan pepatah ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian’. Sumber

Hidup Sekadar Numpang Minum

Di tempat Untung belajar, ada kebiasaan “habur” yaitu hari libur sehari. Para siswa boleh pergi. Pada saat liburan itu, setiap siswa diberi paket satu dos yang berisi nasi, lauk, dan buah. Kesempatan semacam ini umumnya digunakan untuk jalan-jalan.
Untung bersama teman-teman sekelompok menggunakan habur untuk jalan-jalan. Pada saat makan siang, Untung masuk ke sebuah rumah makan dan diikuti teman-temannya. Di rumah makan itu mereka hanya pesan minuman. Lalu, mereka membuka dos masing-masing dan mulai makan siang. Tentu saja hal ini menjadi tontonan bagi para pengunjung rumah makan itu.
“Umumnya, orang masuk rumah makan kan pesan makanan. La anak-anak itu sudah bawa sendiri dan cuma pesan minuman!” komentar seorang yang kebetulan duduk di sebelah meja Untung sambil geleng-geleng kepala terheran-heran.
“Wah, untung dong, bisa tambah sambal dan saus gratis!” komentar yang lain.
“Yang punya rumah makan saja nggak komentar kok sampeyan menggerutu!” jawab salah seorang teman Untung.
“Mm… kami di sini cuman nunut makan kok Mas…! Daripada makan di tepi jalan, nggak sopan!” seloroh Untung disambut tawa teman-temannya.
Orang Jawa punya pepatah, “wong urip mono mung sadrema mampir ngombe.” Orang hidup di dunia ini, ibaratnya sekadar mampir minum. Begitu singkatnya! Namun, kiranya selain minum, toh orang butuh makan, butuh bekerja, butuh bergaul, butuh berdoa. Maka, menggunakan kesempatan yang ada semaksimal mungkin untuk melaksanakan kehidupan ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Sumber

Kerjasama Tanpa Merugikan

Pengalaman ini terjadi di asrama tempat Untung menimba ilmu. Di kelas angkatan Untung, yang waktu itu jumlahnya 92 orang, tidur dalam satu kamar tidur di asrama.
Setelah doa malam, para siswa harus menjaga keheningan. Tidak boleh ramai. Tidak boleh ngobrol. Tidak boleh berisik. Setelah semua masuk kamar, beberapa menit kemudian lampu terang dimatikan dan diganti dengan lampu redup. Beberapa menit berikutnya, lampu redup itu pun dimatikan dan Untung bersama teman-temannya tidur dalam kegelapan malam.
Di awal-awal, karena belum biasa dengan keadaan seperti ini, kerap kali Untung dan teman-temannya hanya terbaring sambil bengong, tidak bisa segera tertidur. Kadang-kadang ada yang iseng, menekuk jari-jari tangan sehingga mengeluarkan bunyi “Klek! Klek! Klek!” Bunyi itu menjadi pancingan bagi yang lain, sehingga terjadilah “konser klek.” Bayangkan kalau masing-masing penghuni asrama membunyikan sepuluh jari tangannya, susul-menyusul. Suasana pun menjadi gaduh.
Di tengah-tengah suara itu muncul suara “Hmm! Hmm! Hmm!” Maunya sih supaya suara tekukan jari berhenti, tetapi yang lain justru menyambung, “Hmm! Hmm! Hmm!” Suasana seperti ini pasti mengundang Kepala Asrama keluar dari kamarnya dan masuk ruang tidur untuk menenangkan suasana. Begitu ada suara pintu dibuka semua menjadi diam! Tapi, begitu Kepala Asrama masuk kamarnya lagi, “Konser klek! Klek! Klek! Dan Hmm! Hmm! Hmm!” pun akan mulai lagi.
Kebersamaan memang penting. Kekompakan memang diperlukan. Kerja sama memang dibutuhkan. Namun, semua itu penting, diperlukan, dan dibutuhkan untuk mengembangkan kehidupan bersama. Bukan untuk mengacaukan suasana. Apalagi demi merusak hubungan dengan orang lain. Sumber

Bisa Menasihati Ya Bisa Menjalani

Senja hari, Untung sekeluarga sedang makan malam sederhana bersama. Johny, teman Untung, datang ke rumah Untung dengan membawa accu di pundaknya sambil terengah-engah.
“Bu, saya mohon agar Untung boleh mengantar saya pulang!” pinta Johny memelas.
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Johny bercerita bahwa dia bertemu dengan memedhon, yaitu sejenis setan di kampung Untung yang bentuknya seperti pocongan. Memedhon itu menampakkan diri di rumpun bambu beberapa ratus meter di lorong belakang rumah Untung.
“Lain kali, kalau ditakut-takuti setan seperti itu, kamu harus berdoa! Setan pasti takut!” Begitu Untung menasihati Johny.
Persis Untung selesai mengatakan kalimat tersebut, tiba-tiba ada makhluk putih besar melompat-lompat di depan mereka. Untung sangat terkejut dan kontan berteriak dan lari ketakutan bersama Untung. Mereka gemetar dan menangis tersedu-sedu. Dasar Untung, habis “khotbah” langsung tidak bisa membuktika khotbahnya.
Pepatah Jawa berbunyi, “Gajah diblangkoni, isa khotbah ora isa nglakoni” (bisa khotbah tak bisa menghayati dan melaksanakan). Pepatah lain mengatakan “Wit gedhang awoh pakel, omong gampang nglakoni angel” (kita gampang omong tentang sesuatu, tetapi sulit melaksanakan).

Inilah perjuangan kita manusia beriman: mewujudkan setiap cita-cita luhur dan baik dalam tindakan sehari-hari. Pengalaman Untung itu merupakan contoh yang tidak baik. Untung bisa menasihati temannya, tetapi persis ketika nasihat itu harus diwujudkan, Untung menjadi tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bahkan terkejut dan lari ketakutan. Sikap inilah yang rupanya juga menjadi penyakit kebanyakan manusia dewasa ini. Sumber

Senin, 16 April 2012

Cinta Itu ...

Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, "Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh ! Aku tunggu bis berikutnya aja deh."

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, "Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku". Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu?

Pulau Cinta

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Ci nta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.

Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.

"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ......"

Monyet dan Ayam

Pada suatu zaman, ada seekor ayam yang bersahabat dengan seekor monyet. Si Yamyam dan si Monmon namanya. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si Monmon yang suka semena-mena dengan binatang lain. Hingga, pada suatu petang si Monmon mengajak Yamyam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang, si Monmon mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Yamyam dan mulai mencabuti bulunya. Yamyam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. “Lepaskan aku, mengapa kau ingin memakan sahabatmu?” teriak si Yamyam. Akhirnya Yamyam, dapat meloloskan diri.
Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. si Kepiting merupakan teman Yamyam dari dulu dan selalu baik padanya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang rumah si Kepiting. Di sana ia disambut dengan gembira. Lalu Yamyam menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Monmon.
Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Monmon. Ia berkata, “Mari kita beri pelajaran si Monmon yang tidak tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Monmon. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si Monmon untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat.
Kemudian si Yamyam mengundang si Monmon untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Monmon segera menyetujui ajakan itu karena ia berpikir akan mendapatkan banyak makanan dan buah-buahan di pulau seberang. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai di tengah laut, Yamyam dan kepiting berpantun. Si Yamyam berkokok “Aku lubangi ho!!!” si Kepiting menjawab “Tunggu sampai dalam sekali!!”
Setiap kali berkata begitu maka si Yamyam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut, sedangkan Si Yamyam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Monmon yang berteriak minta tolong karena tidak bisa berenang. Akhirnya ia pun tenggelam bersama perahu tersebut.
(Disarikan dari Abdurrauf Tarimana, dkk, “Landoke-ndoke te Manu: Kera dan Ayam,” Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta: Dept. P dan K, 1978, hal. 61-62) Sumber

Jumat, 13 April 2012

Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Suatu ketika, SMU Gratia kedatangan tim penilik sekolah. Celakanya, hari itu banyak siswa membolos. Kepala Sekolah merasa malu dan sangat marah. Maka, setelah selesai menjamu tamu, ia masuk ke sebuah kelas sambil mencak-mencak.
“Kalian murid yang tidak kenal disiplin! Ke mana teman-temanmu yang membolos?”
“Nonton TV, Pak. Ada siaran langsung tinju kelas berat.”
“Astaga! Membolos hanya untuk menonton televisi? Ini pelecehan berat! Kalian harus dididik lebih keras lagi! Kalian tidak boleh kurang ajar seperti ini lagi!” kata Kepala Sekolah berapi-api. Seluruh murid di kelas itu habis dimarahi oleh Pak Kepala Sekolah.
“Pak, boleh kami bertanya?” seorang murid memberanikan diri menyela.
“Mau tanya apa? Silakan.”
“Mengapa kami yang tidak membolos malah dimarahi? Bukankah yang membolos yang seharusnya dimarahi?”
“Loh? Tidak mungkin! Saya tak mungkin memarahi mereka yang sekarang tidak hadir!”
Nila setitik, rusak susu sebelanga. Siapa yang merusak? Siapa yang rusak? (Merenung Sambil Tersenyum Sumber

Tindakan Cerminan Pikiran

Mambo Lambemo mengajak Lya, pacarnya, mencari angin di sepanjang jalan kampung.
“Lya, ayo kita jalan-jalan sambil ngobrol.”
“Boleh, tapi Mas Mambo sebaiknya pulang dulu ke rumah.”
“Memang kenapa? Apakah kamu malu berjalan dengan pacar seperti aku?”
“Jangan salah tangkap, Mas. Aku sangat bangga punya pacar setampan Mas Mambo. Nah, maksudku, Mas Mambo sebaiknya pulang dulu untuk gosok gigi,” jawab Lya yang tahu persis bahwa Mambo baru saja makan sepiring petai.
Yang keluar dari mulut tidak jauh dari apa yang masuk ke dalamnya. Demikian pula, tindakan kita tidak akan jauh dari apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber

Kamis, 12 April 2012

Sarang Laba-laba Di Serban

Dulu ada seorang hakim Arab yang terkenal karena kebijaksanaannya. Pada suatu hari seorang pemilik toko datang melapor bahwa ada barang dicuri dari tokonya, tetapi ia tidak dapat menangkap pencurinya.
Hakim memerintahkan agar pintu toko dilepas dari engselnya, dibawa ke tengah pasar dan dicambuki limapuluh kali, karena tidak melakukan kewajibannya menahan pencuri masuk toko.
Banyak orang berkumpul melihat hukuman aneh yang sedang berjalan. Ketika cambukan sudah dijalankan, hakim membungkuk dan bertanya kepada pintu, siapa pencurinya. Lalu ia menempelkan telinganya ke pintu, untuk mendengar lebih baik apa yang dikatakan pintu.
Ketika berdiri ia mengumumkan. “Pintu menyatakan bahwa pencurian itu dilakukan oleh seseorang yang membawa sarang laba-laba di puncak serbannya.” Segera tangan orang tertentu di tengah massa itu meraba serbannya. Rumahnya diperiksa dan barang-barang curian ditemukan.
Yang diperlukan hanya kata yang menyanjung atau celaan untuk membuka si aku. (The Prayer of The Frog) Sumber

Rabu, 11 April 2012

Singa dan Tikus

Alkisah ada cerita dari negeri antah berantah …
Seekor tikus berlari melewati kepala seekor singa yang tengah tidur dan membangunkannya. Dengan libasan cepat kaki depannya singa itu mencengkram tikus dan mengaum gusar.
“Tolong jangan memakanku, aku tidak bermaksud buruk”, tikus itu memohon. “Jika kamu melepaskan aku, aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti”.
Perkataan dari makhluk kecil yang seakan tidak berarti tersebut serta merta ditertawakan singa, “mana mungkin kamu bisa bantu saya, sahutnya”, namun singa mempertimbangkan dan sang raja hutan pun bersedia melepaskannya.
Tidak lama kemudian, singa itu berkeliling mencari mangsa untuk makan malam dan tertangkap jaring perangkap yang dipasang seorang pemburu. Karena tidak mampu bergerak, singa tersebut mengeluarkan raungan kekesalan. Tikus itu mendengarnya dan mengenali suara singa, tikus bergegas datang untuk menolong hewan buas yang tertangkap itu.
“Paduka Raja”, tikus berkata dengan sopan, “Izinkan aku membantumu”. Tikus kemudian menggigit jaring dengan gigi – giginya yang mungil hingga ia berhasil membuat lubang yang cukup besar agar singa bisa meloloskan diri.
Pesan moral :
  • Tidak ada perbuatan baik, sekecil apa pun, yang sia – sia.
  • Jangan pernah meremehkan seseorang, dengan statusnya saat ini. Sumber

Pasir dan Mutiara

Ada seorang anak muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi. Tanpa pengalaman, berbekal ijazah dan impian yang besar, dia mulai menapakkan langkah, mencoba terjun ke masyarakat dengan mencari pekerjaan. Dia mengirim banyak surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Sayang, harapannya tak sesuai kenyataan. Penolakan demi penolakan justru diterimanya. Tapi, saat diterima pun, ternyata pekerjaan yang didapat tidak sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.

Saat dia pindah ke perusahaan lain, dan kemudian berpindah lagi, keadaan pun tidak jauh berbeda. Kekecewaannya berulang lagi. Ia merasa kecewa pada perusahaan, kecewa pada diri sendiri, dan kecewa pada penerimaan orang lain terhadap dirinya yang tidak sesuai dengan harapannya. Semua itu menyebabkan dia semakin hari merasa semakin stres, dan akhirnya berniat mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.
Untuk mewujudkan niatnya, dia memilih lautan sebagai tempat untuk bunuh diri. Setibanya di tepi laut yang berombak besar, segera niatnya dilaksanakan. Dia pun berlari mengejar ombak dan melemparkan dirinya ke dalam gelombang air pasang yang siap menelan tubuhnya. Tetapi usahanya gagal! Beberapa kali ia mencoba, juga gagal lagi.

Saat itu, ada pria setengah baya yang kebetulan melihat ulah si pemuda dan segera menghampirinya. Orang itu lantas bertanya kepadanya, "Hei anak muda, kenapa engkau mau mengakhiri hidupmu dengan jalan pintas seperti ini?"
Dengan muka sedih dan kepala tertunduk, si pemuda menjawab, "Hidupku sungguh tidak berarti. Aku gagal! Aku kecewa pada perusahaan tempatku bekerja. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku juga kecewa pada masyarakat yang meremehkan dan memandang rendah diriku. Untuk apa lagi aku hidup seperti ini?"
"Anak muda, caramu berpikir itu salah! Pantas kamu mengambil jalan pintas seperti ini. Lihatlah ini," bapak itu berkata sambil tangannya mengambil sejumput pasir dan kemudian melemparkan ke depan. Pasir itu pun segera terserak bersama pasir yang lain. Setelah itu, dia berkata, "Pungutlah pasir yang saya lempar tadi."
"Ah, mana mungkinpasir itubisa saya pungut lagi," jawab si pemuda keheranan, tak tahu apa maksud bapak itu menyuruhnya seperti itu.
Melihat pemuda itu tampak tak mengerti maksud perintahnya, bapak itu kemudian ganti mengambil suatu benda dari kantong sakunya dan berkata, "Sekarang, pungutlah mutiara ini." Paman itu lantas melemparkannya mutiara dari kantongnya, sama seperti pasir tadi. Dengan segera dipungutlah mutiara itu oleh si pemuda. Mudah sekali! Sumber

Nilai Sebutir Nasi

Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang anak yang sangat dimanjakan. Di hadapan raja dan permaisuri, sikap si pangeran kecil ini baik dan menyenangkan. Tetapi di belakang mereka, sikapnya berubah total menjadi anak yang kurang ajar. Merasa sebagai putera mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi anak yang tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai orang lain. 
Walau dibenci dan dijauhi, tetapi pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu anak laki-laki dari pengasuhnya. Suatu hari, pangeran kecil meminta si bocah untuk "menemaninya makan" siang di ruang makan istana. Dalam artian, si bocah diminta menunggu dan melihat si pangeran makan dari pojok ruangan.
Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat seperti menundukkan kepala seolah sedang berdoa. Sejenak kemudian, sang pangeran mulai melahap segala hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan dicicipinya. Beberapa kali, ia hanya mencuil dan menggigit makananannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya. Tapi bukannnya merasa terhina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung!
"Hai... apa yang kamu tertawakan? Dari tadi kamu tertawa-tawa melihat aku makan. Bahkan saat aku berdoa dan mengucap syukur, kamu juga tertawa."
Kata si bocah kecil dengan berani, "Pangeran tadi berdoa dan mengucap syukur. Tapi cara makan dan memperlakukan makanan, kok tidak sesuai? Jadi, buat apa berdoa dan bersyukur sebelum makan?"
"Ah... sok tahu kamu! Makananku berlimpah ruah. Aku boleh melakukan apa saja terhadap makanan itu," jawab pangeran kecil. "Ayo sekarang ikut aku ke gudang, aku akan tunjukkan berlimpahnya bahan makanan yang aku punya."
Maka, kedua sahabat itu pun segera pergi ke gudang bahan makanan kerajaan. Sesampai di gudang bahan makanan, ternyata ada seorang pegawai istana yang sedang menerima pajak beras dari beberapa petani. Maka, si pangeran berpura-pura menjadi raja yang bijak.
"Hai...rakyatku.. terima kasih ya. Bagaimana panen padi kalian?"

"Panen kali ini buruk sekali, Pangeran," jawab seorang petani, ketakutan. "Sawah ladang dihancurkan hama. Kami tidak tahu anak istri kami besok makan apa. Kami, hanya bertahan hidup dengan sedikit makanan. Jadi, mohon ampuni kami yang hanya mampu mempersembahkan sekantong beras ini. Tetapi beras yang kami persembahkan ini adalah beras terbaik yang kami miliki."
Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tersentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan, sementara dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga itu. Si pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena merasa malu pada diri sendiri. Dan sejak itu, perlahan-lahan tingkahnya berubah menjadi lebih sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali hendak makan, ia mengingatkan dirinya sendiri, "Jangan sisakan sebutir nasi di piringmu!" Sumber

Sang Raja Dan Laba-Laba

Alkisah, ada seorang raja yang pemberani. Suatu hari, ia harus bertarung melawan sekelompok besar pasukan dengan hanya segelintir tentara hingga membuatnya kalah telak. Sampai-sampai ia harus melarikan diri demi menyelamatkan hidupnya.

Sang raja berlindung di dalam sebuah gua hutan. Ia sangat tertekan. Keberaniannya tak bersisa dalam dirinya. Dengan tatapan kosong, ia memandang langit-langit gua itu. Sebuah pemandangan menarik merebut perhatiannya.

Ada seekor laba-laba kecil sedang berusaha menjalin sebuah jaring di langit gua. Ketika laba-laba itu merangkak naik, benang jaringnya putus dan laba-laba itu terjatuh. Tetapi, si laba-laba tidak menyerah. Ia mencoba merangkak naik lagi dan lagi. Akhirnya, ia berhasil naik dan menyelesaikan jaringnya.

Sang raja mulai berpikir, "Jika seekor laba-laba kecil saja mampu menghadapi kegagalan dengan begitu berani, kenapa aku menyerah? Aku akan berusaha sekuat tenaga hingga aku menang." Tekad ini menyuntikkan semangat dan kekuatan yang luar biasa dalam diri sang raja yang kalah.

Sang raja keluar dari hutan dan menghimpun tentara-tentaranya yang gagah berani. Ia bertarung melawan pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar. Karenanya, ia sekali lagi mengalami kekalahan. Tetapi kekalahan kali ini ditanggapinya dengan sikap yang jauh berbeda. Ia tidak mengendurkan semangat bertarungnya dan terus memperbaiki strateginya.

Berulang kali sang raja melawan pasukan yang besar itu dan akhirnya, setelah melakukan upayanya yang kesekian kali ia mampu mengalahkan pasukan sebesar itu dan menguasai kembali kerajaannya. Semuanya ini berkat pelajaran yang diambilnya dari laba-laba di hutan itu.

Kisah sang raja dan laba-laba ini kembali menegaskan bahwa sebuah ketekunan pada sesuatu yang positif bisa membuka jalan menuju kesuksesan besar. Karena itu, jika kita mengimpikan sesuatu atau ingin menjadi seseorang yang ahli di bidang tertentu misalnya, tekunlah memperjuangkan impian itu hingga akhirnya semua yang didambakan bisa tercapai. Luar Biasa!  Sumber

Senin, 09 April 2012

Tekad Menentukan Keberhasilan

Kopral Wicaksana mendapat tugas memimpin sepasukan tentara mengejar pasukan pemberontak yang bergerilya di pegunungan. Medannya sangat sulit karena berhutan lebat dan jurang-jurang terjal menganga di mana-mana. Setibanya pasukan di lokasi pemberontak, ternyata mereka tidak menemukan apa pun. Pasukan pemberontak telah melarikan diri ke dalam hutan.
“Sebaiknya kita kembali saja,” usul salah seorang rekan tentara.
“Kamu takut?” tanya Kopral Wicaksana.
“Tidak! Tetapi, di atas kertas agak mustahillah kita menangkap mereka.”
“Ya, kalau kita adalah tentara yang bertugas di atas kertas. Kita sekarang berdiri di atas tanah! Maju terus!!” perintah Wicaksana dengan tegas.
Keberhasilan mencapai cita-cita ditentukan oleh tekad yang mengawalinya. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber

Pantang Menyerah Ala Semut

Sudah sejak lama, kiprah semut selalu menarik perhatian. Saya senang menyaksikan mereka bergotong royong membawa makanan ke sarang. Atau “berjabat tangan” saat saling bertemu di perjalanan. Lucunya.
Suatu kali, saya melihat seekor semut berjalan sendirian di tembok. Iseng-iseng saya letakkan butiran gula, tak jauh dari tempat semut tadi muter-muter. Hap! Umpan saya rupanya terendus oleh penciuman sang semut. Dia mendekati dan mencoba mengangkat butir gula tadi, sendirian. Namun tubuhnya langsung sempoyongan, dan tubuhnya berbalik. Mungkin ia tak kuat menahan beban itu. Saking beratnya, ia terpaksa harus merayap turun dulu, sambil menstabilkan tubuh.
Tapi ia pantang menyerah. Ia tetap berusaha mempertahankan potongan gula itu sekuat tenaga. Setelah sekitar setengah meter merayap turun, dengan susah payah si semut membalikkan lagi tubuhnya ke atas, lalu mengangkat makanannya merayap ke atas. Ya, ia berhasil merayap naik dan terus naik, ke tempat yang seharusnya ia tuju – rumahnya.
Saya amati terus semut itu sampai ditelan atap. Mungkin sekarang ia sedang menikmati makannya, atau membagi-bagi makanan – yang diperolehnya dengan kerja sangat keras dan penuh cucuran keringat – itu bersama teman-temannya.
Terkadang kita mengalami apa yang semut itu alami, dihadapkan pada tugas atau tanggung jawab yang berat. Namun, alangkah baiknya jika dapat belajar dari semut tadi, mencoba bertahan dan pantang menyerah saat dihadapkan pada tugas, pekerjaan, masalah, atau tanggung jawab yang terasa berat. Bukan hanya sekadar mengeluh dan mengeluh.
Pada awalnya sangat sulit dan kadang merasa putus asa, tapi jika kita mampu bertahan dengan gigih dan pantang menyerah, kita akan bisa mengatasi semua itu dan menikmati buahnya. Persis seperti si semut menikmati makanan yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya. Sumber

Belajar Dari Benih Padi

Pak Tani menyelenggarakan upacara selamatan menjelang musim tanam. Ia mengambil sebagian padi untuk hiasan upacara dan sebagian lagi disiapkannya sebagai benih untuk ditanam. Biji padi yang dijadikan benih ternyata cemburu dan berkeluh kesah kepada Pak Tani.
“Pak Tani tidak adil! Mengapa hanya sebagian teman kami yang Bapak pilih untuk dijadikan hiasan? Lihatlah, mereka dikagumi dan dipuji-puji banyak orang, sedangkan kami sama sekali tidak diacuhkan. Pak Tani sungguh tidak adil!”
Pak Tani mendengarkan keluh kesah mereka namun tidak menjawab. Ia malahan segera mengangkut mereka dan melemparkannya ke berbagai penjuru sawah, ke tengah-tengah tanah becek yang kotor. Benih padi semakin sedih.
Beberapa hari kemudian, Pak Tani menjenguk sawahnya dan menyapa benih padi.
“Selamat pagi, Benih Padi. Apa kabarmu?”
“Pak Tani, mengapa kami dibuang ke tanah kotor ini? Apa salah kami? Kami kedinginan dan kepanasan, tapi kaubiarkan kami. Wajah kami kini jadi rusak. Lihat, ada banyak serat akar tumbuh pada tubuh kami. Tolong angkat dan bersihkan kami, Pak Tani!”
“Kutolong kamu, Benih Padi,” jawab Pak Tani. Akan tetapi, Pak Tani tidak juga mengangkat atau membersihkan benih-benih padi itu. Berhari-hari ia tetap membiarkan benih padi tinggal di tanah yang becek dan kotor. Dibiarkannya pula akar yang tumbuh semakin banyak. Bahkan, yang tumbuh bukan hanya akar, melainkan juga batang dan daun. Benih padi semakin kurus kering, akar dan daun semakin lebat, hingga suatu saat benih  padi itu lenyap tak berbekas. Sawah itu kini menguning, penuh dengan tanaman padi yang berbulir lebat. Banyak orang mengagumi keindahannya dan banyak orang membutuhkannya. Pak Tani datang menjenguk benih padinya.
“Benih Padi, bagaimana kabarmu hari ini?”
“Pak Tani, terima kasih atas pertolonganmu,” kata benih padi yang kini telah berubah menjadi tanaman yang berbuah lebat.
Bila orang bersedia tumbuh dalam tangan Tuhan, hidupnya akan penuh arti. Bagaimanapun juga, hal itu tidaklah mudah karena menuntut penyangkalan diri. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber

Sabtu, 07 April 2012

Mengapa Seorang Manusia Harus Bersyukur

Adalah seorang pemuda yang sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Ia berasal dari keluarga yang berada, tampan, memiliki kekasih yang cantik dan tak pernah kekurangan apapun. Suatu ketika, ia lewat di depan sebuah showroom mobil dan kagum terhadap mobil sport merah yang ia dambakan. Ia pun mengungkapkan kekagumannya terhadap mobil itu kepada ayahnya, dengan harapan ayahnya akan menghadiahkan mobil itu saat ia lulus.

Tibalah pada hari kelulusan. Dengan hati yang girang ia menunjukkan bukti prestasinya kepada ayah dan ibunya. Ia yakin, bahwa ayahnya pasti akan membelikan mobil sport kemarin sebagai hadiahnya. "Ya, ayah sudah tahu apa yang aku inginkan..." bisiknya dalam hati.

Sepulang dari acara kelulusan, sang ayah memanggilnya ke dalam sebuah ruangan. Kemudian menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas sederhana dan pita di atasnya. Sang anak terheran-heran, apa gerangan yang ada di dalam kotak tersebut. Pikirannya pun melayang dan berharap sebuah kunci mobil yang ada di dalamnya. Bergegas ia pun membuka, dan langsung kecewa.

Di dalamnya hanya ditemukan sebuah agenda usang milik sang ayah di mana banyak pengalaman hidup dituliskannya. Sang ayah tersenyum dan berharap anaknya bahagia. Namun sang anak marah dan memaki ayahnya dengan kasar. Sejak itu, sang anak pergi meninggalkan rumah dan melanjutkan hidupnya.

Bertahun-tahun sudah ia lewatkan di dalam hidup yang mewah dan bahagia. Sungguh beruntung sang anak karena kepandaiannya membuat hidupnya selalu berkecukupan. Tiba-tiba ia terkejut menerima sebuah kabar, bahwa ia diharuskan segera pulang untuk mengurus semua kematian ayahnya. Ya, ayahnya telah meninggal dunia.

Iapun berkemas dan bergegas menuju kediaman orang tuanya, yang telah ditinggalkan sejak hari kelulusan beberapa tahun silam. Tak ada yang berubah, semua tetap sama, bahkan ruangan tempat ia bertemu dengan ayahnya terakhir kali juga tak berubah sama sekali. Kemudian ia melangkahkan kaki perlahan menuju meja kerja sang ayah. Dilihatnya sebuah kotak kado yang ditolaknya mentah-mentah masih tersimpan rapi di atas meja. Ia lalu membuka kotak tersebut dan bermaksud membaca agenda ayahnya. Namun sebuah amplop jatuh dari dalam agenda. Sang anak memungut amplop tersebut yang ternyata isinya sebuah kunci mobil sport dengan bukti pembelian 'LUNAS' di dalamnya.

Sang anak menangis sejadinya, ia tak pernah menyangka bahwa di dalam agenda usang tersebut sang ayah menyelipkan kunci mobil yang didambakannya. Bahkan ia tak pernah membuka agenda tersebut.

Dan begitu pula kita...

Kita seringkali melewatkan berkah dari Tuhan karena kemasannya tak sesuai seperti yang kita inginkan. Kita berharap menjadi kaya namun menolak sebuah pekerjaan yang dianggap kasar dan menyulitkan, tanpa mencobanya terlebih dahulu. Kita kerap bertindak kasar pada seseorang berparas pas-pasan yang mengajak berkenalan, padahal di dalam hati berharap mendapat pasangan yang baik dan setia. Kita marah karena harta benda ludes terbawa bencana alam, dan menyalahkan Tuhan karena tak memberi perlindungan. Kita marah karena orang yang kita cinta meninggalkan kita...

Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki, karena kita tak pernah tahu ada apa di balik keadaan yang menimpa kita saat ini. Sumber

Kekuatan Sebuah Kerja Sama

Dua orang pria yang tinggal di pinggir sebuah hutan berniat untuk membangun rumah. Masing-masing dari pria tersebut bekerja seorang diri, membangun rumah masing-masing tanpa bantuan orang lain. Hingga berbulan-bulan, tidak ada satupun di antara mereka yang berhasil merampungkan rumah tersebut, mereka hanya kuat mengangkut batu-batuan sungai kecil dan diletakkan begitu saja di pinggir hutan. Sebenarnya mereka membutuhkan batu yang lebih kuat sebagai pondasi rumah, tetapi tak ada satupun  dari mereka yang kuat membawa batu besar tersebut.

Setelah dua pria yang tak saling membantu tersebut hampir putus asa, datang seorang pemburu yang berteduh tak jauh dari tumpukan batu-batu sungai di pinggir hutan.

"Hai kalian berdua," sapa pemburu itu pada dua pria, "Kenapa kalian mengumpulkan banyak batu di pinggir hutan?"

Kedua pria yang selama berbulan-bulan tidak pernah saling menyapa tersebut menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka berniat membangun sebuah rumah. Nyatanya, kemampuan mereka tak cukup untuk mengangkat batu-batu sungai yang cukup besar.

Sang pemburu menggelengkan kepala prihatin, lalu mengatakan, "Kenapa kalian tidak saling bekerja sama? Percayalah, hal itu akan meringankan kerja kalian. Jika masing-masing dari kalian hanya mampu mengangkat batu sungai seberat 20 kg, tetapi dengan kerjasama dari kalian berdua, kalian  bisa mengangkat lebih dari 50 kg,"

Kedua pria yang sama-sama membangun rumah saling berpandangan, ide tersebut tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Akhirnya kedua pria tersebut saling bekerja sama membangun dua rumah yang berbeda. Dan benar apa yang dikatakan oleh pemburu itu, mereka bisa mengangkat batu yang beratnya berkali-kali lipat kemampuan mereka. Dengan kerjasama yang baik dan kemauan untuk saling mendengarkan ide masing-masing, kedua pria tersebut berhasil menyelesaikan pembangunan rumah kecil dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Sahabat, jangan remehkan kehebatan kerjasama tim. Dengan kemauan untuk saling mendengar, saling berbagi ide dan dengan komando yang tepat, ada banyak hal yang bisa terselesaikan dengan kerjasama. Jadi jangan menolak bila Anda terlibat dalam kerjasama yang melibatkan tim, sebuah pekerjaan bisa terselesaikan dan Anda bisa belajar untuk menghadapi banyak ide dari kepala yang berbeda. Sumber

Jiwa di Balik Setangkai Bunga

Lihatlah bunga-bunga yang bermekaran itu, warnanya indah, kuning, merah, ungu dengan daun hijau yang menopang. Di belakangnya layar lebar langit biru di gelar luas menjadi background seolah semua bunga dan daun itu menempel di atas warna birunya. Sebuah pemandangan yang sangat indah dan sempurna.

Saat menarik dan menghembuskan nafas, apa yang Anda rasakan? Perasaan senang, bahagia, rasa syukur atau biasa saja, tak merasakan apa-apa? Coba pejamkan mata Anda saat ini, tarik nafas perlahan dan hembuskan. Rasakan benar-benar setiap nafas yang masuk dan keluar dari paru-paru melalui saluran tenggorokan dan hidung serta mulut. Terasa ada yang berbeda bukan?

Setiap hal kecil yang Anda alami setiap hari bisa saja selama ini Anda anggap sebagai hal yang biasa. Namun jika Anda mau mencermatinya, setiap hal kecil itu adalah kepingan yang menyusun kebahagiaan di dalam hidup Anda.

Kesibukan dan masalah yang muncul setiap hari bisa saja membuat Anda merasa hidup ini tak berarti dan membosankan. Ada sebuah sisi yang terlewatkan dari pandangan Anda, di mana hidup ini merupakan suatu hal yang menarik.

Setangkai bunga yang mekar di tepi jalan mungkin luput dari pandangan Anda. Hentikan langkah Anda, lihat sekali lagi, ah ternyata setangkai bunga itu ternyata sangat indah. Mulai lagi dari hal kecil lain yang biasanya selalu terlewatkan dari pandangan Anda, bisa Anda lihat kan ternyata banyak hal yang sangat indah di sekitar Anda.

Saat Anda bisa melihat segala hal dari sisi lain, hal-hal kecil khususnya, di situlah hidup ini terasa begitu indah dan menarik. Banyak orang merasa kehilangan jiwa, dan seumur hidup berusaha mencari jiwa itu. Sahabat yang saat ini sedang mencari jiwa, Anda sudah menemukannya! Di balik mekarnya bunga, gemercik air, rumput yang bergoyang tertiup angin, hangatnya sinar matahari, senyum ramah dari seorang penjual nasi. Ketika hidup ini terasa indah dan menarik. Berbahagialah! Anda telah menemukan jiwa Anda. Sumber