Kamis, 19 Januari 2012

Kaca Jendela Yang Kotor

Bagaimana Anda bisa melihat kesalahan orang lain jika mata hati Anda sendiri tidak jernih? 

Seorang pebisnis merasa risih dengan gedung tempat saingan bisnisnya. Setiap pagi ketika pebisnis ini melihat ke luar jendela, dia sangat terganggu dengan gedung yang kebetulan terletak tepat di depan jendelanya itu. Menurutnya, gedung itu nampak buram dan tak terawat, yang tentu saja mengganggu pemandangannya

"Gimana mau maju, bangunan sendiri aja nggak diurus," gerutunya selalu. Teman-teman sekantor sudah sangat hapal dengan kritikan semacam itu, dan memilih diam. Si pebisnis memang dikenal suka mengkritik segala hal sehingga orang-orang di sekitarnya tidak lagi menganggap serius komentar-komentar yang keluar dari bibirnya.

Suatu hari, jendela di ruang pebisnis ini dibersihkan. Ternyata selama ini jendela itu selalu terlewati oleh bagian cleaning service karena letaknya yang agak tersembunyi. Pagi hari berikutnya, si pebisnis kembali menatap ke luar jendela dan menjadi terkejut karena gedung di seberangnya mendadak terlihat terang dan bersih.

Bagaimana mungkin mereka mendekor ulang sisi luar gedung dalam waktu semalam? Demikian batin si pebisnis. Lalu seseorang memberitahu pebisnis tersebut bahwa kaca jendelanya baru saja dibersihkan. Maka dia pun mengambil kesimpulan, saat dia membersihkan jendelanya, si saingan bisnis tidak mau kalah, ikut membersihkan gedungnya juga.

Pikiran orang yang picik akan selalu buruk karena mata hatinya sendiri sudah tidak jernih. Seperti halnya kita saat melihat dari jendela yang kotor, semua pemandangan di luar jendela nampak lusuh dan berdebu. Sementara ketika jendela itu dibersihkan, maka kita bisa melihat dengan jelas dan semuanya nampak jernih. Pelajaran dari hal ini, bersihkan dulu hati dan pikiran Anda sebelum menilai orang lain agar Anda dapat menilai dengan bijak Sumber

Mendengar Yang Tak Terdengar

Suatu hari Raja Ts’ao yang memerintah abad ke-3, mengirim putranya, Pangeran T’ai ke kuil Guru Besar Pan Ku. T’ai akan dididik menjadi raja menggantikan ayahnya. Anehnya, ketika sampai di kuil, Pan Ku justru mengirim T’ai masuk ke hutan sendirian.
Setelah satu tahun putra mahkota kembali ke kuil. Guru bertanya kepada T’ai, suara apa saja yang sudah didengarnya selama di hutan. “Guru, saya dapat mendengar kokok ayam jantan, jangkrik mengerik, lebah mendengung, dan burung berkicau.”
Begitu Pangeran T’ai selesai menjelaskan pengalamannya, Guru Pan Ku memerintahkannya kembali ke hutan untuk memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar. T’ai bingung dengan perintah Sang Guru. Bukankah ia telah mendengarkan setiap suara yang ada?
Empat hari empat malam T’ai berada di hutan, tetapi tidak mendengar suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya. Pada suatu pagi, ketika sedang bersila di bawah pohon, sayup-sayup T’ai mendengar suara yang berbeda dengan sebelumnya. Semakin lama, suara itu semakin jelas. Saat itu T’ai mengalami pencerahan batin. “Pasti inilah suara-suara yang dimaksudkan sang Guru,” pikirnya.
Akhirnya Pangeran kembali ke kuil melaporkan temuannya. “Guru, ketika membuka telinga dan hati lebar-lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar semisal suara bunga merekah, suara matahari yang memanaskan Bumi, dan suara rumput meminum embun pagi.” Guru manggut-manggut mengiyakan.
“Mendengar sesuatu yang tak terdengar, penting sebagai pelajaran wajib untuk menjadi pemimpin yang baik. Karena baru setelah mampu mendengar suara hati rakyat, mendengar perasaan yang tidak mereka ekspresikan, kesakitan yang tidak diungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, seorang pemimpin akan memahami apa yang salah dan bisa memenuhi kebutuhan sebenarnya warga negaranya.” (Parable of Leadership/Intisari) Sumber

Selasa, 17 Januari 2012

Tak Hanya Indah, Kecil Itu Penting

Ungkapan “kecil itu indah” barangkali akan lebih berguna bila ditambahi “kecil itu penting”. Peribahasa menyatakan, langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil. Sebaliknya, malapetaka dahsyat pun tak jarang dikarenakan kelalaian kecil. Tak percaya? Beberapa tahun lalu koran The Wall Street Journal pernah mengisahkan pelajaran berharga bagaimana sikap menyepelekan hal kecil bisa-bisa mendatangkan kerugian besar.
Seorang mekanik yang sedang bekerja di bawah sebuah pesawat menemukan lubang kecil di WC penumpang di bagian depan. Namun, ia lebih mengedepankan perbaikan pada peralatan canggih bagian mesin utama yang menyebabkan tertundanya jadwal penerbangan pesawat. Ia beranggapan, perbaikan kebocoran kecil itu toh nanti bisa dilakukan setelah pesawat mendarat di bandara berikutnya.
Pesawat pun lepas landas. Apa yang terjadi? Bocoran air dari kamar kecil itu terus menetes. Nah, karena suhu di luar pesawat amat dingin, tetesan air itu menjadi beku. Hanya dalam beberapa jam, tetesan tersebut berubah menjadi sebongkah batu es. Di tengah kecepatan laju pesawat 650 mil/jam, bongkahan es itu lepas dari badan pesawat dan menghantam mesin. Akibatnya sungguh luar biasa. Bongkah es itu merusak dan merobek badan pesawat.
Kali ini pesawat terpaksa mendarat darurat di bandara terdekat. Petugas pemeriksa menemukan bahwa bagian yang ternyata menghindarkan pesawat dari malapetaka yang lebih dahsyat adalah sebuah ring penutup dari karet. Bayangkan, lantaran mengabaikan hal kecil, nyawa sekitar 100 orang dipertaruhkan, dan mesin seharga 1 juta dolar rusak.Sumber

Pertolongan dari dalam Penjara

Seorang pria tua tinggal sendirian di sebuah kota. Dia ingin sekali menanam kentang di kebun belakang rumahnya. Tapi pekerjaan menggali kebun sangatlah berat. Putra satu-satunya, yang akan membantunya, berada di penjara. Orang tua itu menulis surat kepada putranya dan menjelaskan tentang kondisinya sekarang. “Putraku tersayang, Aku merasa sangat buruk karena sepertinya saya tidak akan bisa menanam kentang tahun ini. Aku benci merindukan saat-saat berkebun karena ibumu sangat suka berkebun. Aku hanya terlalu tua untuk menggali tanah untuk menanam kentang.Jika kau ada di sini, semua kesulitan saya akan berakhir. Aku tahu kau akan menggali tanah itu untuk saya, jika kau tidak berada dalam penjara. Salam sayang, Ayah” Tak lama kemudian, pria tua itu menerima telegram yang berbunyi: ‘Demi Tuhan, Ayah, jangan menggali kebun! Di situlah aku mengubur senjatanya! ‘ Pada pukul 4 pagi keesokan harinya, selusin agen FBI dan polisi setempat muncul dan menggali seluruh kebun tanpa menemukan senjata apapun. Dengan perasaan bingung, orang tua itu menulis surat lagi kepada anaknya untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan bertanya kepadanya apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jawaban putranya adalah sebagai berikut “Selamat berkebun ayah. Sekarang ayah bisa menanam kentang tahun ini. Ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untukmu dari sini. ” Tidak masalah dimana anda berada. Jika anda memutuskan untuk melakukan sesuatu dari dalam hati, maka anda bisa melakukannya dari belahan dunia manapun. Sumber

Menabur dan Menuai Kata

Suatu hari datanglah seorang pria setengah baya ke hadapan seorang Bijak, “Guru, saya punya banyak kesalahan. Saya telah memfitnah, membohongi, dan menggosipkan teman saya dengan hal-hal negatif. Kini saya menyesal.”
Menurut pengakuannya, pria tersebut sudah mendatangi teman yang sering difitnahnya untuk meminta maaf. Meski demikian hatinya terus dihantui rasa bersalah sehingga mendorongnya untuk meminta maaf kepada Tuhan. “Bagaimana caranya agar bisa diampuni Tuhan atas kesalahan saya?”
Setelah mendengarkan uraian pria tersebut, sang Bijak berkata, “Lihatlah bantal yang tergeletak di tempat tidurku. Nah, ambil bantal itu dan bawalah ke alun-alun di tengah kota. Di sana, bukalah bantal itu sampai bulu-bulu ayam dan kapas di dalamnya keluar tertiup angin. Itulah bentuk hukuman atas kata-kata jahat yang telah keluar dari mulutmu.”
Meski kebingungan mendengar perkataan sang Bijak, toh akhirnya pria tersebut menjalani “hukuman” yang diperintahkan kepadanya. Di alun-alun ia membuka bantal dan dalam sekejap bulu ayam dan kapas beterbangan keluar dari dalam bantal tertiup angin.
Setelah selesai, ia kembali menghadap sang Bijak, “Saya telah melakukan apa yang Guru perintahkan. Apakah kini saya sudah diampuni?”
Jawab sang Bijak, “Jangan senang dulu, kamu belum dapat pengampunan. Pasalnya, kau baru menjalankan separuh tugasmu. Kini, kembalilah ke alun-alun dan pungutlah kembali bulu-bulu ayam yang tadi beterbangan tertiup angin.” Ingat, kata-kata yang pernah keluar dari mulutmu akan menggema selamanya. (Bits&Pieces) Sumber

Senin, 16 Januari 2012

Minuman Soda Picu Perlemakan Organ

Sudah membatasi makan tetapi berat badan tetap tak terkontrol? Mungkin ini saatnya merevisi konsumsi minuman bersoda kegemaran Anda. Pasalnya, konsumsi minuman bersoda dapat meningkatkan jumlah lemak di sekitar hati dan organ perut lainnya.

Hal itu diungkapkan para ilmuwan dari Denmark. Dampak negatif minuman bersoda itu ditemukan pada mereka yang mengasup softdrink sampai dengan satu liter setiap harinya. Sekitar 47 responden penelitian ini adalah orang yang kegemukan. Selama enam bulan mereka diminta mengonsumsi seliter air, susu, diet cola atau minuman soda biasa setiap harinya.

Menurut ketua peneliti, Dr.Bjrn Richelsen dari Aarhus University Hospital, para partisipan studi dipilih karena orang yang kegemukan dan obesitas lebih sensitif pada perubahan pola makan dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Pada akhir penelitian, orang dari kelompok minuman bersoda biasa mengalami peningkatan lemak di sekitar organ perut sampai dengan 25 persen. Perlemakan paling banyak terdapat pada bagian liver dan otot.

"Peningkatan lemak tersebut sangat berkaitan dengan risiko penyakit sindrom metabolik seperti diabetes melitus, penyakir kardiovaskular, serta penyakit liver non-alkohol," kata Richelsen.

Jenis lemak yang berada di sekitar organ tersebut disebut juga dengan lemak ektopik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan lemak subkutan, yakni lemak yang berada di bawah kulit.

"Beberapa penelitian menyebutkan lemak ektopik sangat tidak sehat dan menyebabkan disfungsi organ-organ di sekitarnya," paparnya. Ditambahkan olehnya, hasil studi yang dilakukannya menambah panjang bukti ilmiah agar masyarakat mulai membatasi konsumsi minuman berpemanis. Sumber

7 Cara Cerdaskan Otak Anak

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Salah satu faktor untuk mewujudkannya adalah pengaruh lingkungan atau pola asuh orang tua.
Sering muncul pertanyaan, apakah mungkin untuk mengasah kecerdasan anak pada tahap awal agar kelak saat ia dewasa menjadi seorang yang jenius?Kabar baiknya adalah Ya! Semua yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan otak bayi terletak pada orang tuanya.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda mulai untuk mengasah kecerdasan otak si buah hati, terutama pada dua tahun pertama kehidupannya.
* Mulai sejak dini
Mulailah sejak dini bahkan sebelum ia dilahirkan. Caranya dengan memastikan calon ibu memiliki kesehatan yang baik dan cukup gizi. Hindari zatberbahaya seperti alkohol, obat-obatan, rokok, dan merkuri yang diketahui berbahaya bagi perkembangan otak bayi Anda. Penuhi kebutuhan gizi khusus untuk perkembangan otak bayiseperti asam folat dan minyak ikan. Banyak obat yang tidak dianjurkan selama kehamilan. Jadi konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum mengambil obat-obatantertentu.
Pemberian ASI
ASI mengandung nutrisi tak terhitung yang penting untuk pertumbuhan bayi. Salah satu unsurterpenting itu adalah asam docosahexaenoic (DHA), yang merupakan asam lemak esensial yang baik untuk perkembangan otak. Banyak perusahaan pemasaran makanan telah mencoba untuk meniru bahan ini di laboratorium dan menambahkannya ke makanan bayi. Tapi belum ada yang bisa menyamai DHA alami seperti yang terdapat dalam ASI.
Membacakan cerita
Meski bayi mungkin belum memahami isi cerita yang Anda bacakan, namun membaca terus-menerus akan membantu bayi untuk mendengar, mengenali kata-kata dan artinya. Proses ini penting dalam membantu cara bicara dan membangun kosa kata bayi.
* Berikan mainan cerdas
Mainan memainkan peran penting dalam perkembangan otak bayi Anda. Kuncinyamemilih mainan dan kegiatan yang tepat harus sesuai dengan tahap perkembangan biologi anakPilih mainansederhana yang tidak membuat bayi frustasiBelikan mainan buka tutup untuk menggasah imajinasi serta membantu membangun koordinasi antara mata dan tangan.
Bermain tanda
Ajaklah bayi Anda mempelajari tanda-tanda ketika menginjak usia 4 (empat) bulan. Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan bahasa isyarat mengarah ke peningkatan dalam bahasa lisan serta IQ yang lebih tinggi.
* Kenalkan bahasa asing
Pada usia yang tepat, perkenalkan anak Anda untuk mendengar suara dan kosakata dari bahasa asing. Memutar DVD bahasa asing, bisa meningkatkan kosakata anak Anda. Beberapa penelitian menunjukkan pengenalan bahasa asing sebaiknya dimulai setelah anak lancar berbahasa ibu.
* Kontak fisik
Belaian dan sentuhan Anda kepada bayi sangat penting untuk pertumbuhan emosionalnya. Membelai rambut, tungkai dan tubuh juga membantu membuat koneksi neurologis yang penting untuk perkembangan otak. Ini juga akan membantu memperkuat ikatan Anda dengan bayi Anda. Sumber