Penggunaan antibiotik yang tidak rasional paling sering ditemukan pada batuk dan pilek akibat virus. Hampir seperempat masyarakat meyakini bahwa penyakit flu dan batuk akan lebih cepat sembuh jika diobati antibiotik. Padahal antibiotik hanya menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sedangkan influenza diakibatkan virus.
Hasil survei yang dilakukan oleh Health Protection Agency (HPA) tersebut dilakukan di Inggris terhadap 1.800 orang. Survei juga menemukan 1 dari 10 orang tidak menghabiskan resep antibiotik dan akan mengonsumsinya sisanya jika suatu hari sakit kembali.
Meski survei tersebut dilakukan di Inggris, sebenarnya penggunaan antibiotik yang tak rasional terjadi hampir di banyak tempat, termasuk Indonesia. Mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 ditemukan rata-rata 50 resep obat di puskesmas dan rumah sakit di Indonsia mengandung antibiotik.
Hasil serupa ditemukan dalam studi Yayasan Orangtua Peduli. Sebanyak 86,4 persen anak penderita infeksi virus yang ditandai dengan demam dan 74,1 persen anak penderita diare diresepkan dengan antibiotik.
Antibotik adalah penemuan yang penting dalam dunia kesehatan. Namun obat ini tidak bisa mengobati semua penyakit. Penggunaan yang tidak rasional akan membawa keburukan daripada kebaikan.
Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, frekuensi pemberian yang keliru, dan waktu pemberian yang terlalu lama atau cepat mengurangi efikasi antibiotik sebagai pembunuh kuman. Terapi yang tidak efektif akan menimbulkan resistensi obat yang serius.
Menurut HPA 30 persen responden membeli antiobiotik setiap tahunnya. "Ini membuktikan bahwa makin sering kita mengonsumsi antibiotik, makin besar kemungkinannya mengalami resistensi. Efek samping lainnya adalah menderita diare karena antibiotik," kata Dr.Clioda McNulty, dari HPA.
HPA juga merekomendasikan agar para tenaga kesehatan membatasi keinginan pasien akan antibotik karena 97 persen responden mengatakan terakhir kali mereka minta antibotik pada dokter, mereka langsung diberikan resep.
"Meski sudah bertahun-tahun dikampanyekan akan bahaya resistensi obat dan bahwa penyakit flu dan batuk tidak bisa disembuhkan dengan antibotik, nyatanya mitos yang salah ini masih dipercaya," kata McNulty. Sumber
Tampilkan postingan dengan label Hidup Sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Sehat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 April 2012
10 Mitos Penggunaan Obat
Obat dapat dilihat sebagai pedang bermata dua. Dapat memberikan kesembuhan, namun dapat pula menyebabkan kesakitan bahkan kematian. Demikian disampaikan Prof. DR. dr. Rianto Setiabudy SpFK, dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Menurut Rianto, masalah penggunaan obat yang baik dan benar masih menjadi fenomena kompleks. Banyak mitos keliru yang berkembang di masyarakat tentang penggunaan obat yang justru dapat memperburuk derajat kesehatan seseorang.
"Prinsipnya, gunakan obat yang mantab manfaatnya, aman, sesuai dengan kondisi seseorang dan terjangkau," kata Rianto saat acara forum diskusi di Jakarta, Kamis, (29/3/2012).
Rianto menuturkan, penggunaan obat dapat dikatakan rasional apabila indikasi penggunaannya tepat, dosis dan cara pemberian tepat, lama pemberian tepat, dan biaya terjangkau.
Sebagai Guru Besar Farmakologi FKUI, Rianto menjabarkan 10 mitos yang salah di masyarakat terkait penggunaan obat, seperti dijelaskan di bawah ini :
1. Meningkatkan dosis obat menyebabkan penyakit lebih cepat sembuh
"Tidak benar. Salah besar jika ada orang yang beranggapan demikian," ucap Rianto. Ia menjelaskan, seorang pasien tidak boleh meningkatkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter yang bersangkutan. Tindakan ini dinilainya justru dapat menimbulkan masalah kesehatan yang baru.
2. Menggunakan lebih banyak jenis obat lebih manjur
Penggunaan berbagai macam jenis obat untuk mengatasi satu jenis penyakit dengan alasan biar cepat sembuh bukan cara yang tepat. Penggunaan obat dengan jenis yang beragam akan percuma karena besar kemungkinan obat tersebut memiliki kandungan yang sama. "Kalau bisa pakai satu obat, pakai satu saja," katanya.
3. Obat "paten" atau mahal akan lebih manjur dari yang murah
Tidak benar jika ada orang yang beranggapan dengan membeli obat yang mahal, maka penyakitnya bisa lebih cepat sembuh. Masyarakat harus tahu bahwa obat paten dan generik memiliki khasiat yang sama. "Bahkan kalau ada keluarga saya yang sakit, saya selalu kasih obat generik," ujar Rianto.
4. Kalau suatu obat terbukti manjur untuk orang lain, pasti akan manjur juga untuk saya
Belum tentu. Tidak semua obat yang cocok bagi orang lain pasti cocok pula untuk Anda. Sebagai contohnya, seseorang yang sama-sama menggunakan kacamata minus belum tentu dapat menggunakan kacamata orang lain yang sama-sama memakai kacamata minus.
"Jadi semua tergantung dari sejauh mana tingkat keparahan penyakit orang dan untuk memastikannya harus diperiksakan ke dokter," tegas Rianto.
5. Orang tipe "badak" perlu dosis besar
'Apabila orang lain dosisnya cukup satu, saya tidak mempan dan harus makan dua atau tiga obat sekaligus' Pernyataan itu mungkin sering kita dengar. Tetapi menurut Rianto, tidak semua obat memiliki tingkat yang seramah itu jika dikonsumsi tidak sesuai dosis. "Karena ada obat yang apabila dikonsumsi berlebihan jutru akan menimbulkan efek samping berbahaya," ucapnya.
6. Suntik mempercepat sembuhnya sakit
Banyak orang beranggapan suntik itu lebih manjur. Tetapi pada orang yang mengalami alergi pemberian obat dengan cara disuntik jauh lebih berbahaya dari pada yang diminum. "Jadi janganlah mendesak dokter untuk minta disuntik," katanya
7. Makan obat dalam waktu lama bisa merusak ginjal
"Beberapa pasien hipertensi menderita stroke karena mitos yang ke tujuh ini," katanya. Banyak pasien berpikir, konsumsi obat yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu lama dapat merusak ginjal. Padahal keputusan mereka untuk memberhentikan minum obat justru dapat berdampak lebih fatal. "Jutru yang erusak ginjalnya itu adalah hipertensinya, bukan obatnya," jelanya
8. Obat tradisional atau herbal pasti aman
Obat herbal atau tradisional belum tentu aman. Menurut Rianto, obat yang seratus persen aman adalah plasebo karena tidak memiliki khasiat.
9. Vitamin adalah kebutuhan esensial untuk mempertahankan kesehatan tubuh
Seseorang tidak memerlukan asupan multivitamin. Karena sebanyak apa pun seseorang mengonsumsi vitamin, hal itu tidak akan mampu menggantikan posisi dari makanan.
10. Suplemen makanan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan
Suplemen bentuknya memang seperti obat tetapi dia bukan obat. Produen boleh mengklaim apa aja tentang khasiat suplemen yang mereka buat tanpa harus membuktikan, asal tidak mengklaim menyembuhkan atau menceagh suatu penyakit. "Ini yang tidak disktehui konsumen," katanya. Sumber
Menurut Rianto, masalah penggunaan obat yang baik dan benar masih menjadi fenomena kompleks. Banyak mitos keliru yang berkembang di masyarakat tentang penggunaan obat yang justru dapat memperburuk derajat kesehatan seseorang.
"Prinsipnya, gunakan obat yang mantab manfaatnya, aman, sesuai dengan kondisi seseorang dan terjangkau," kata Rianto saat acara forum diskusi di Jakarta, Kamis, (29/3/2012).
Rianto menuturkan, penggunaan obat dapat dikatakan rasional apabila indikasi penggunaannya tepat, dosis dan cara pemberian tepat, lama pemberian tepat, dan biaya terjangkau.
Sebagai Guru Besar Farmakologi FKUI, Rianto menjabarkan 10 mitos yang salah di masyarakat terkait penggunaan obat, seperti dijelaskan di bawah ini :
1. Meningkatkan dosis obat menyebabkan penyakit lebih cepat sembuh
"Tidak benar. Salah besar jika ada orang yang beranggapan demikian," ucap Rianto. Ia menjelaskan, seorang pasien tidak boleh meningkatkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter yang bersangkutan. Tindakan ini dinilainya justru dapat menimbulkan masalah kesehatan yang baru.
2. Menggunakan lebih banyak jenis obat lebih manjur
Penggunaan berbagai macam jenis obat untuk mengatasi satu jenis penyakit dengan alasan biar cepat sembuh bukan cara yang tepat. Penggunaan obat dengan jenis yang beragam akan percuma karena besar kemungkinan obat tersebut memiliki kandungan yang sama. "Kalau bisa pakai satu obat, pakai satu saja," katanya.
3. Obat "paten" atau mahal akan lebih manjur dari yang murah
Tidak benar jika ada orang yang beranggapan dengan membeli obat yang mahal, maka penyakitnya bisa lebih cepat sembuh. Masyarakat harus tahu bahwa obat paten dan generik memiliki khasiat yang sama. "Bahkan kalau ada keluarga saya yang sakit, saya selalu kasih obat generik," ujar Rianto.
4. Kalau suatu obat terbukti manjur untuk orang lain, pasti akan manjur juga untuk saya
Belum tentu. Tidak semua obat yang cocok bagi orang lain pasti cocok pula untuk Anda. Sebagai contohnya, seseorang yang sama-sama menggunakan kacamata minus belum tentu dapat menggunakan kacamata orang lain yang sama-sama memakai kacamata minus.
"Jadi semua tergantung dari sejauh mana tingkat keparahan penyakit orang dan untuk memastikannya harus diperiksakan ke dokter," tegas Rianto.
5. Orang tipe "badak" perlu dosis besar
'Apabila orang lain dosisnya cukup satu, saya tidak mempan dan harus makan dua atau tiga obat sekaligus' Pernyataan itu mungkin sering kita dengar. Tetapi menurut Rianto, tidak semua obat memiliki tingkat yang seramah itu jika dikonsumsi tidak sesuai dosis. "Karena ada obat yang apabila dikonsumsi berlebihan jutru akan menimbulkan efek samping berbahaya," ucapnya.
6. Suntik mempercepat sembuhnya sakit
Banyak orang beranggapan suntik itu lebih manjur. Tetapi pada orang yang mengalami alergi pemberian obat dengan cara disuntik jauh lebih berbahaya dari pada yang diminum. "Jadi janganlah mendesak dokter untuk minta disuntik," katanya
7. Makan obat dalam waktu lama bisa merusak ginjal
"Beberapa pasien hipertensi menderita stroke karena mitos yang ke tujuh ini," katanya. Banyak pasien berpikir, konsumsi obat yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu lama dapat merusak ginjal. Padahal keputusan mereka untuk memberhentikan minum obat justru dapat berdampak lebih fatal. "Jutru yang erusak ginjalnya itu adalah hipertensinya, bukan obatnya," jelanya
8. Obat tradisional atau herbal pasti aman
Obat herbal atau tradisional belum tentu aman. Menurut Rianto, obat yang seratus persen aman adalah plasebo karena tidak memiliki khasiat.
9. Vitamin adalah kebutuhan esensial untuk mempertahankan kesehatan tubuh
Seseorang tidak memerlukan asupan multivitamin. Karena sebanyak apa pun seseorang mengonsumsi vitamin, hal itu tidak akan mampu menggantikan posisi dari makanan.
10. Suplemen makanan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan
Suplemen bentuknya memang seperti obat tetapi dia bukan obat. Produen boleh mengklaim apa aja tentang khasiat suplemen yang mereka buat tanpa harus membuktikan, asal tidak mengklaim menyembuhkan atau menceagh suatu penyakit. "Ini yang tidak disktehui konsumen," katanya. Sumber
6 Kesalahan Saat Mengobati Diri Sendiri
Di tengah himpitan ekonomi, banyak masyarakat berupaya melakukan pengobatan terhadap dirinya sendiri (self medicine). Mengobati diri sendiri boleh-boleh saja, asalkan dilakukan dengan baik dan benar.
Demikian disampaikan Prof. DR. dr. Rianto Setiabudy SpFK dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam diskusi bertema 'Penggunaan Obat yang Rasional" Kamis (29/3/2012) di Jakarta.
"Pengobatan diri sendiri akan sangat bermanfaat karena dapat menghemat waktu dan biaya transpor, mengurangi biaya konsultasi dokter, dan sebagian penyakit di masyarakat tergolong penyakit yang cepat sembuh sendiri," katanya.
Rianto menjelaskan, penyakit yang boleh diobati sendiri oleh orang awam memiliki ciri di mana penyakit biasanya bersifat ringan, akan sembuh sendiri dalam waktu singkat dan tidak berbahaya. Penyakit tersebut misalnya batuk pilek tidak lebih dari 5 hari, diare ringan selama beberapa hari, sakit kepala ringan, sembelit dan sukar tidur.
"Tetapi kadang kita harus hati-hati. Biarpun demam baru satu hari tapi kalau kejang, harus segera dibawa kedokter, karena ini bukan demam biasa," katanya.
Rianto mengingatkan, ada sejumlah penyakit yang tidak boleh diobati sendiri oleh orang awam. Cirinya, penyakit ini biasanya cenderung menjadi berat, tidak sembuh sendiri (walaupun tidak terasa sakit). Misalnya, hipertensi, diare hebat, kencing manis, kanker, penyakit ginjal dan jantung.
Meski begitu, Rianto menegaskan tidak semua orang mampu menerapkan praktik pengobatan diri sendiri secara benar. Ia menyebutkan, ada beberapa contoh kesalahan yang lazim dilakukan masyarakat dalam mengobati dirinya sendiri :
1. Mangobati flu, batuk, pilek dengan antibiotika.
"Ini sangat buruk dan manfaatnya tidak ada sama sakali. Tidak ada virus yang dapat diobati dengan antibiotika," katanya.
2. Penggunaan vitamin secara belebihan
Rianto mengungkapkan, hasil riset The National Cancer Institute di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang setiap hari mengonsumsi lebih dari 1 macam multivitamin lebih besar risikonya menderita kanker prostat. "Meskipun kebenaran hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan kalangan ilmuwan," ungkapnya.
3. Menyisakan obat untuk "sakit yang akan datang"
Dalam beberapa kasus, Rianto mengamati, banyak pasien yang tidak menghabiskan obat yang diresepkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Misalnya, obat yang seharusnya dihabiskan dalam waktu seminggu, namun hanya diminum sampai hari ke empat (karena merasa badan sudah agak baikan), lalu sisanya disimpan dan dipakai kalau penyakitnya kembali kambuh.
4. Menggunakan obat dokter yang terlihat manjur untuk orang lain
"Jangan karena melihat teman atau saudara bisa sembuh dengan mengonsumsi obat dari pemberian dokter, lantas kita ikut-ikutan meminumnya," ucapnya. Menurut Rianto, meskipun penyakit yang kita derita sama dengan orang lain, tetapi belum tentu obatnya sama. Karena tingkat keparahan penyakit setiap orang berbeda-beda.
5. Membeli obat keras tanpa resep dokter
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, akses mendapatkan obat di Indonesia masih terlalu mudah. Bahkan obat yang seharusnya hanya dapat dibeli dengan resep dokter, dapat dengan mudah didapatkan di toko-toko obat. "Di Malaysia, kalau mau beli obat antibiotika harus pakai resep. Tapi kalau di Indonesia, tidak pernah ditanya resep. Maka sia-sia lah kita berteriak memerangi resistensi terhadap obat kalau sisitemnya masih seperti ini," jelasnya.
6. Mengobati sendiri penyakit berbahaya
Sampai saat, ini masih ada sebagian masyarakat yang lebih percaya pengobatan tradisional ketimbang pergi ke dokter, khususnya dalam mengobati penyakit berbahaya seperti misalnya, kanker, diabetes, jantung. Sumber
Demikian disampaikan Prof. DR. dr. Rianto Setiabudy SpFK dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam diskusi bertema 'Penggunaan Obat yang Rasional" Kamis (29/3/2012) di Jakarta.
"Pengobatan diri sendiri akan sangat bermanfaat karena dapat menghemat waktu dan biaya transpor, mengurangi biaya konsultasi dokter, dan sebagian penyakit di masyarakat tergolong penyakit yang cepat sembuh sendiri," katanya.
Rianto menjelaskan, penyakit yang boleh diobati sendiri oleh orang awam memiliki ciri di mana penyakit biasanya bersifat ringan, akan sembuh sendiri dalam waktu singkat dan tidak berbahaya. Penyakit tersebut misalnya batuk pilek tidak lebih dari 5 hari, diare ringan selama beberapa hari, sakit kepala ringan, sembelit dan sukar tidur.
"Tetapi kadang kita harus hati-hati. Biarpun demam baru satu hari tapi kalau kejang, harus segera dibawa kedokter, karena ini bukan demam biasa," katanya.
Rianto mengingatkan, ada sejumlah penyakit yang tidak boleh diobati sendiri oleh orang awam. Cirinya, penyakit ini biasanya cenderung menjadi berat, tidak sembuh sendiri (walaupun tidak terasa sakit). Misalnya, hipertensi, diare hebat, kencing manis, kanker, penyakit ginjal dan jantung.
Meski begitu, Rianto menegaskan tidak semua orang mampu menerapkan praktik pengobatan diri sendiri secara benar. Ia menyebutkan, ada beberapa contoh kesalahan yang lazim dilakukan masyarakat dalam mengobati dirinya sendiri :
1. Mangobati flu, batuk, pilek dengan antibiotika.
"Ini sangat buruk dan manfaatnya tidak ada sama sakali. Tidak ada virus yang dapat diobati dengan antibiotika," katanya.
2. Penggunaan vitamin secara belebihan
Rianto mengungkapkan, hasil riset The National Cancer Institute di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang setiap hari mengonsumsi lebih dari 1 macam multivitamin lebih besar risikonya menderita kanker prostat. "Meskipun kebenaran hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan kalangan ilmuwan," ungkapnya.
3. Menyisakan obat untuk "sakit yang akan datang"
Dalam beberapa kasus, Rianto mengamati, banyak pasien yang tidak menghabiskan obat yang diresepkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Misalnya, obat yang seharusnya dihabiskan dalam waktu seminggu, namun hanya diminum sampai hari ke empat (karena merasa badan sudah agak baikan), lalu sisanya disimpan dan dipakai kalau penyakitnya kembali kambuh.
4. Menggunakan obat dokter yang terlihat manjur untuk orang lain
"Jangan karena melihat teman atau saudara bisa sembuh dengan mengonsumsi obat dari pemberian dokter, lantas kita ikut-ikutan meminumnya," ucapnya. Menurut Rianto, meskipun penyakit yang kita derita sama dengan orang lain, tetapi belum tentu obatnya sama. Karena tingkat keparahan penyakit setiap orang berbeda-beda.
5. Membeli obat keras tanpa resep dokter
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, akses mendapatkan obat di Indonesia masih terlalu mudah. Bahkan obat yang seharusnya hanya dapat dibeli dengan resep dokter, dapat dengan mudah didapatkan di toko-toko obat. "Di Malaysia, kalau mau beli obat antibiotika harus pakai resep. Tapi kalau di Indonesia, tidak pernah ditanya resep. Maka sia-sia lah kita berteriak memerangi resistensi terhadap obat kalau sisitemnya masih seperti ini," jelasnya.
6. Mengobati sendiri penyakit berbahaya
Sampai saat, ini masih ada sebagian masyarakat yang lebih percaya pengobatan tradisional ketimbang pergi ke dokter, khususnya dalam mengobati penyakit berbahaya seperti misalnya, kanker, diabetes, jantung. Sumber
Orang Cerdas Jarang Cuti Sakit
Tingkat kecerdasan memiliki hubungan erat dengan kualitas kesehatan. Sebuah riset menunjukkan, mereka yang cerdas ternyata lebih jarang sakit atau mengambil cuti panjang dari pekerjaan karena menderita sakit.
Para peneliti dari King's College London, Inggris, menelusuri data lebih dari 23.000 orang yang mengikuti tes perilaku kognitif pada tiga kurun waktu yakni 1946, 1958, dan 1970.
Pada kelompok yang mengikuti tes kognitif pada 1946, 47 persen pekerja yang mengambil cuti panjang karena sakit berada pada kategori seperempat terburuk hasil tes kemampuan kognitif. Sementara itu, pekerja yang mencatat hasil tes kognitifnya tertinggi, hanya 13 persen saja yang mengambil cuti sakit.
Hasil yang tak jauh berbeda juga ditemukan pada pekerja yang menjalani tes kognitif pada 1958. Tercatat ada 41 persen dari kelompok hasil tes kognitif terburuk yang mengambil cuti sakit. Adapun pada 1970, dari kelompok hasil tes terburuk ini tercatat 32 persen mengambil cuti sakit.
Para peneliti yang memuat hasil risetnya dalam jurnal BMJ Open mengatakan, kemampuan kognitif pada usia muda diyakni memiliki pengaruh, yang sangat kuat dalam menentukan kondisi sakit, akan membuat seseorang berhenti dari pekerjaannya.
Menurut hasil riset, rendahnya kemampuan kognitif dan tingkat pendidikan kemungkinan juga dapat membatasi kemampuan seseorang dalam mentransfer keterampilan. Contohnya, ketika seorang pekerja dengan skill terbatas menderita sakit dan kemudian berhenti dari pekerjaan, mereka memiliki sedikit pilihan untuk menemukan pekerjaan lain.
"Cuti panjang karena sakit adalah hasil yang sangat kompleks dengan melibatkkan banyak faktor kesehatan. Kemampuan kognitif mungkin memengaruhi cara seseorang dalam membangun strategi mempertahankan pekerjaan mereka dan menemukan pekerjan baru ketika menghadapi beragam kesulitan," kata peneliti. Sumber
Para peneliti dari King's College London, Inggris, menelusuri data lebih dari 23.000 orang yang mengikuti tes perilaku kognitif pada tiga kurun waktu yakni 1946, 1958, dan 1970.
Pada kelompok yang mengikuti tes kognitif pada 1946, 47 persen pekerja yang mengambil cuti panjang karena sakit berada pada kategori seperempat terburuk hasil tes kemampuan kognitif. Sementara itu, pekerja yang mencatat hasil tes kognitifnya tertinggi, hanya 13 persen saja yang mengambil cuti sakit.
Hasil yang tak jauh berbeda juga ditemukan pada pekerja yang menjalani tes kognitif pada 1958. Tercatat ada 41 persen dari kelompok hasil tes kognitif terburuk yang mengambil cuti sakit. Adapun pada 1970, dari kelompok hasil tes terburuk ini tercatat 32 persen mengambil cuti sakit.
Para peneliti yang memuat hasil risetnya dalam jurnal BMJ Open mengatakan, kemampuan kognitif pada usia muda diyakni memiliki pengaruh, yang sangat kuat dalam menentukan kondisi sakit, akan membuat seseorang berhenti dari pekerjaannya.
Menurut hasil riset, rendahnya kemampuan kognitif dan tingkat pendidikan kemungkinan juga dapat membatasi kemampuan seseorang dalam mentransfer keterampilan. Contohnya, ketika seorang pekerja dengan skill terbatas menderita sakit dan kemudian berhenti dari pekerjaan, mereka memiliki sedikit pilihan untuk menemukan pekerjaan lain.
"Cuti panjang karena sakit adalah hasil yang sangat kompleks dengan melibatkkan banyak faktor kesehatan. Kemampuan kognitif mungkin memengaruhi cara seseorang dalam membangun strategi mempertahankan pekerjaan mereka dan menemukan pekerjan baru ketika menghadapi beragam kesulitan," kata peneliti. Sumber
Kamis, 08 Maret 2012
Mengapa Ibu Menangis?
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, aku wanita”.
“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan mengerti….”
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap menerima cerca dari anaknya….
Kuberikan pada wanita keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah..
Kuberikan pada wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan pada wanita kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi
Dan, akhirnya,
Kuberikan pada wanita airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepadanya, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan…. [dikutip dari : kang Hendra ]
“Cukuplah Alloh bagiku, tiada Ilah selain Dia, Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”
[at-taubah:129]
Seorang wanita sesungguhnya bukanlah makhluk lemah, hanya karena ia menangis.. Karna tangis seorang wanita bukanlah berarti keputusasaan ataupun keterpurukan…
Tidaklah seorang wanita menangis, jika setelahnya ia kembali tegar, dan kuat sebagaimana fitrah dirinya tercipta.. Karenanya, mulailah untuk lebih menghargai diri sendiri dengan sepantasnya sebagai makhluk yg kuat. Jangan pernah mendiskreditkan diri anda sendiri, hanya karena anda wanita. Tetap kuat, tetap semangat!!!
Chaiyo!!! ;D terimakasihku
“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan mengerti….”
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap menerima cerca dari anaknya….
Kuberikan pada wanita keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah..
Kuberikan pada wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan pada wanita kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi
Dan, akhirnya,
Kuberikan pada wanita airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepadanya, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan…. [dikutip dari : kang Hendra ]
“Cukuplah Alloh bagiku, tiada Ilah selain Dia, Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”
[at-taubah:129]
Seorang wanita sesungguhnya bukanlah makhluk lemah, hanya karena ia menangis.. Karna tangis seorang wanita bukanlah berarti keputusasaan ataupun keterpurukan…
Tidaklah seorang wanita menangis, jika setelahnya ia kembali tegar, dan kuat sebagaimana fitrah dirinya tercipta.. Karenanya, mulailah untuk lebih menghargai diri sendiri dengan sepantasnya sebagai makhluk yg kuat. Jangan pernah mendiskreditkan diri anda sendiri, hanya karena anda wanita. Tetap kuat, tetap semangat!!!
Chaiyo!!! ;D terimakasihku
Senin, 16 Januari 2012
Minuman Soda Picu Perlemakan Organ
Sudah membatasi makan tetapi berat badan tetap tak terkontrol? Mungkin ini saatnya merevisi konsumsi minuman bersoda kegemaran Anda. Pasalnya, konsumsi minuman bersoda dapat meningkatkan jumlah lemak di sekitar hati dan organ perut lainnya.
Hal itu diungkapkan para ilmuwan dari Denmark. Dampak negatif minuman bersoda itu ditemukan pada mereka yang mengasup softdrink sampai dengan satu liter setiap harinya. Sekitar 47 responden penelitian ini adalah orang yang kegemukan. Selama enam bulan mereka diminta mengonsumsi seliter air, susu, diet cola atau minuman soda biasa setiap harinya.
Menurut ketua peneliti, Dr.Bjrn Richelsen dari Aarhus University Hospital, para partisipan studi dipilih karena orang yang kegemukan dan obesitas lebih sensitif pada perubahan pola makan dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.
Pada akhir penelitian, orang dari kelompok minuman bersoda biasa mengalami peningkatan lemak di sekitar organ perut sampai dengan 25 persen. Perlemakan paling banyak terdapat pada bagian liver dan otot.
"Peningkatan lemak tersebut sangat berkaitan dengan risiko penyakit sindrom metabolik seperti diabetes melitus, penyakir kardiovaskular, serta penyakit liver non-alkohol," kata Richelsen.
Jenis lemak yang berada di sekitar organ tersebut disebut juga dengan lemak ektopik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan lemak subkutan, yakni lemak yang berada di bawah kulit.
"Beberapa penelitian menyebutkan lemak ektopik sangat tidak sehat dan menyebabkan disfungsi organ-organ di sekitarnya," paparnya. Ditambahkan olehnya, hasil studi yang dilakukannya menambah panjang bukti ilmiah agar masyarakat mulai membatasi konsumsi minuman berpemanis. Sumber
Hal itu diungkapkan para ilmuwan dari Denmark. Dampak negatif minuman bersoda itu ditemukan pada mereka yang mengasup softdrink sampai dengan satu liter setiap harinya. Sekitar 47 responden penelitian ini adalah orang yang kegemukan. Selama enam bulan mereka diminta mengonsumsi seliter air, susu, diet cola atau minuman soda biasa setiap harinya.
Menurut ketua peneliti, Dr.Bjrn Richelsen dari Aarhus University Hospital, para partisipan studi dipilih karena orang yang kegemukan dan obesitas lebih sensitif pada perubahan pola makan dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.
Pada akhir penelitian, orang dari kelompok minuman bersoda biasa mengalami peningkatan lemak di sekitar organ perut sampai dengan 25 persen. Perlemakan paling banyak terdapat pada bagian liver dan otot.
"Peningkatan lemak tersebut sangat berkaitan dengan risiko penyakit sindrom metabolik seperti diabetes melitus, penyakir kardiovaskular, serta penyakit liver non-alkohol," kata Richelsen.
Jenis lemak yang berada di sekitar organ tersebut disebut juga dengan lemak ektopik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan lemak subkutan, yakni lemak yang berada di bawah kulit.
"Beberapa penelitian menyebutkan lemak ektopik sangat tidak sehat dan menyebabkan disfungsi organ-organ di sekitarnya," paparnya. Ditambahkan olehnya, hasil studi yang dilakukannya menambah panjang bukti ilmiah agar masyarakat mulai membatasi konsumsi minuman berpemanis. Sumber
7 Cara Cerdaskan Otak Anak
Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Salah satu faktor untuk mewujudkannya adalah pengaruh lingkungan atau pola asuh orang tua.
Sering muncul pertanyaan, apakah mungkin untuk mengasah kecerdasan anak pada tahap awal agar kelak saat ia dewasa menjadi seorang yang jenius?Kabar baiknya adalah Ya! Semua yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan otak bayi terletak pada orang tuanya.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda mulai untuk mengasah kecerdasan otak si buah hati, terutama pada dua tahun pertama kehidupannya.
* Mulai sejak dini
Mulailah sejak dini bahkan sebelum ia dilahirkan. Caranya dengan memastikan calon ibu memiliki kesehatan yang baik dan cukup gizi. Hindari zatberbahaya seperti alkohol, obat-obatan, rokok, dan merkuri yang diketahui berbahaya bagi perkembangan otak bayi Anda. Penuhi kebutuhan gizi khusus untuk perkembangan otak bayi, seperti asam folat dan minyak ikan. Banyak obat yang tidak dianjurkan selama kehamilan. Jadi konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum mengambil obat-obatantertentu.
* Pemberian ASI
ASI mengandung nutrisi tak terhitung yang penting untuk pertumbuhan bayi. Salah satu unsurterpenting itu adalah asam docosahexaenoic (DHA), yang merupakan asam lemak esensial yang baik untuk perkembangan otak. Banyak perusahaan pemasaran makanan telah mencoba untuk meniru bahan ini di laboratorium dan menambahkannya ke makanan bayi. Tapi belum ada yang bisa menyamai DHA alami seperti yang terdapat dalam ASI.
* Membacakan cerita
Meski bayi mungkin belum memahami isi cerita yang Anda bacakan, namun membaca terus-menerus akan membantu bayi untuk mendengar, mengenali kata-kata dan artinya. Proses ini penting dalam membantu cara bicara dan membangun kosa kata bayi.
* Berikan mainan cerdas
Mainan memainkan peran penting dalam perkembangan otak bayi Anda. Kuncinya, memilih mainan dan kegiatan yang tepat harus sesuai dengan tahap perkembangan biologi anak. Pilih mainansederhana yang tidak membuat bayi frustasi. Belikan mainan buka tutup untuk menggasah imajinasi serta membantu membangun koordinasi antara mata dan tangan.
* Bermain tanda
Ajaklah bayi Anda mempelajari tanda-tanda ketika menginjak usia 4 (empat) bulan. Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan bahasa isyarat mengarah ke peningkatan dalam bahasa lisan serta IQ yang lebih tinggi.
* Kenalkan bahasa asing
Pada usia yang tepat, perkenalkan anak Anda untuk mendengar suara dan kosakata dari bahasa asing. Memutar DVD bahasa asing, bisa meningkatkan kosakata anak Anda. Beberapa penelitian menunjukkan pengenalan bahasa asing sebaiknya dimulai setelah anak lancar berbahasa ibu.
* Kontak fisik
Belaian dan sentuhan Anda kepada bayi sangat penting untuk pertumbuhan emosionalnya. Membelai rambut, tungkai dan tubuh juga membantu membuat koneksi neurologis yang penting untuk perkembangan otak. Ini juga akan membantu memperkuat ikatan Anda dengan bayi Anda. Sumber
Makanan Sehat yang Tidak Populer
Banyak makanan sehat yang tersedia di alam ini. Tapi, ada beberapa makanan yang cenderung kita abaikan, entah karena tidak tahu bagaimana memasaknya atau hanya karena bentuknya yang tidak menarik. Di bawah ini adalah 5 makanan sehat yang mungkin sering tidak Anda lirik, tetapi justru menyimpan begitu banyak nutrisi penting bagi tubuh:
1. Plum kering (prunes)
Makanan ini sekilas memang terlihat tidak menarik. Tetapi mereka memiliki kandungan kalium dua kali lebih banyak dari pada pisang dan lebih tinggi kandungan antioksidan (38 persen) ketimbang blueberry! Bahkan, prunes juga menyediakan banyak serat makanan larut dan tidak larut - termasuk pektin, sejenis serat larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah.
2. Bit
Bit mengandung serat, zat besi, dan vitamin C. Selain itu, makanan ini juga mengandung betacyanin - senyawa kuat yang dapat melawan kanker dan telah terbukti membantu mencegah kanker usus besar.
Bit juga mengandung antioksidan yang telah terbukti efektivitasnya dalam menurunkan kolesterol total sekaligus meningkatkan HDL (kolesterol baik)! Jangan memasak bit terlalu lama, karena aktivitas anti-kanker yang terkandung pada bit dapat berkurang oleh panas.
3. Labu
Satu porsi labu mengandung hampir 3 gram serat dan dikemas dengan beta karoten. Beta karoten adalah antioksidan yang dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mengurangi risiko kanker dan penyakit jantung.
4. Terong
Bentuknya yang lonjong dan berwarna ungu memang terlihat kurang menarik. Tetapi jangan lihat tampilan luarnya saja. Buah yang sering dijadikan sayuran ini memiliki jumlah serat dan mengandung banyak Vitamin B1, B3, dan B6. Plus, mengandung asam chlorogenic - senyawa yang paling ampuh dalam menangkal radikal bebas dan nasunin - antioksidan yang terbukti mampu melindungi lipid (lemak) dalam sel otak, mencegah kerusakan sel yang dapat menyebabkan kanker, dan membantu mencegah rheumatoid arthritis.
5. Kacang
Sebuah penelitian telah menunjukkan sejumlah manfaat kesehatan dari konsumsi kacang mulai mencegah kanker sampai pada mencegah penyakit jantung dan mengatur gula darah. Selain serat, kacang-kacangan juga memiliki kandungan tinggi antioksidan dan protein. Sumber
1. Plum kering (prunes)
Makanan ini sekilas memang terlihat tidak menarik. Tetapi mereka memiliki kandungan kalium dua kali lebih banyak dari pada pisang dan lebih tinggi kandungan antioksidan (38 persen) ketimbang blueberry! Bahkan, prunes juga menyediakan banyak serat makanan larut dan tidak larut - termasuk pektin, sejenis serat larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah.
2. Bit
Bit mengandung serat, zat besi, dan vitamin C. Selain itu, makanan ini juga mengandung betacyanin - senyawa kuat yang dapat melawan kanker dan telah terbukti membantu mencegah kanker usus besar.
Bit juga mengandung antioksidan yang telah terbukti efektivitasnya dalam menurunkan kolesterol total sekaligus meningkatkan HDL (kolesterol baik)! Jangan memasak bit terlalu lama, karena aktivitas anti-kanker yang terkandung pada bit dapat berkurang oleh panas.
3. Labu
Satu porsi labu mengandung hampir 3 gram serat dan dikemas dengan beta karoten. Beta karoten adalah antioksidan yang dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mengurangi risiko kanker dan penyakit jantung.
4. Terong
Bentuknya yang lonjong dan berwarna ungu memang terlihat kurang menarik. Tetapi jangan lihat tampilan luarnya saja. Buah yang sering dijadikan sayuran ini memiliki jumlah serat dan mengandung banyak Vitamin B1, B3, dan B6. Plus, mengandung asam chlorogenic - senyawa yang paling ampuh dalam menangkal radikal bebas dan nasunin - antioksidan yang terbukti mampu melindungi lipid (lemak) dalam sel otak, mencegah kerusakan sel yang dapat menyebabkan kanker, dan membantu mencegah rheumatoid arthritis.
5. Kacang
Sebuah penelitian telah menunjukkan sejumlah manfaat kesehatan dari konsumsi kacang mulai mencegah kanker sampai pada mencegah penyakit jantung dan mengatur gula darah. Selain serat, kacang-kacangan juga memiliki kandungan tinggi antioksidan dan protein. Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)







