Minggu, 12 Februari 2012

Doa Yang Telah Terjawab

"Kenapa ya Tuhan belum juga menjawab doa saya?"

Kira-kira menurut Anda kenapa, Tuhan belum menjawab doa Anda? Kalau menurut kami, mungkin karena IA menunda jawaban untuk memberikan Anda yang terbaik. Atau bisa jadi IA sudah menjawabnya tetapi Anda merasa itu tak sesuai dengan keinginan Anda...

Di sebuah lembah yang subur, hiduplah seekor katak bersama katak-katak lainnya. Mereka selalu hidup makmur dan berkecukupan. Tak pernah ada keluhan dan setiap hari mereka selalu bersenang-senang. 

Suatu hari, datanglah terik panas yang tak ada habisnya. Mata airpun perlahan mulai mengering dan lambat laun seluruh daerah tempat tinggal para katak kekeringan. Seekor katak bernama Ado menghimbau semua teman kataknya untuk ikut bersamanya, menyeberang lembah dan mencari mata air di balik lembah tersebut. Tentu saja perjalanannya tidak mudah, ada banyak resiko yang harus ditempuh karena nyaris sepanjang hidup mereka tinggal di tempat tersebut. 

"Teman-teman, kita harus pergi meninggalkan lembah ini. Ada lembah di balik lembah ini di mana airnya pasti masih cukup untuk hidup kita," kata Ado, 

Namun seekor katak lain, bernama Oda tak setuju dengan pendapat Ado. Katanya, "tidak! bagaimana kami bisa tahu kalau kami akan selamat di luar sana. Sudahlah, kita berdoa saja dan menunggu di sini. Siapa tahu sebentar lagi hujan turun dan kita punya banyak persediaan air lagi." 

Berdebat cukup lama, pada akhirnya Ado memutuskan untuk pergi bersama katak-katak lainnya, sedangkan Oda memilih untuk tinggal karena ia akan menunggu hujan turun. "Huh, lihat saja mereka tak akan selamat. Lebih baik menunggu dan bertahan di sini, toh aku sudah berdoa. Tuhan pasti mendengar doaku dan akan menurunkan hujan untukku," kata Oda. 

Hari demi hari berlalu, tak ada setetes airpun yang turun ke lembah itu. Tidak pula embun pagi yang biasanya memenuhi rerumputan dan memberikan kesejukan. Di sudut sana, Oda terkapar karena kehausan. Nafasnya sudah tak lagi lengkap, dan ia pun akhirnya mati karena tak dapat bertahan hidup dalam kekeringan. Sumber

Tapi Itu Terlalu Tinggi...

Benarkah kita tak perlu berusaha keras untuk mencapai hal-hal yang kita inginkan?

Melihat para pemain basket NBA itu, seperti melihat tiang-tiang yang sedang berlarian mengejar bola dan mencetak skor. Tetapi, pernahkah Anda menyadari bahwa tak semua pemain basket NBA itu tingginya lebih dari 180 cm?

Adalah Tyrone Curtis 'Muggsy' Bogues, mantan pemain basket profesional yang sempat bermain di NBA dan dikenal sebagai pemain terpendek sepanjang sejarah. Tingginya hanya 160 cm saja. Bisa dibilang sebagai pria ia tergolong pendek. Namun, dalam kariernya ia pernah mencetak sebanyak 6.858 poin, 6.727 assists, dan 1.369 steals, sebuah catatan yang mengagumkan untuk pria sependek Curtis. 

Apalagi bila dibandingkan dengan ring basket yang tingginya 305 cm itu, rasanya tak mungkin apabila ia dapat mencetak skor hingga ribuan kan?

Seorang anak pernah bertanya kepada ayahnya, "ayah, bila ring basket dibuat setinggi itu, bagaimana kita bisa mencetak skor dan memasukkan bola? Bukankah itu tinggi sekali, ayah?"

Dan ayahnyapun hanya tersenyum, mengajaknya pergi ke lapangan basket dan melihat pertandingan seru yang tengah berlangsung. "Kamu lihat, di antara semua pemain basket itu, adakah yang tingginya sama dengan ring?" tanya sang ayah. Si anakpun hanya menggeleng. Pikirnya, "iya juga ya, tak ada yang setinggi tiang itu, tapi kenapa mereka bisa memasukkan bola itu dengan tepat?"

Terdorong oleh rasa penasarannya, si anak mengajak ayahnya turun ke lapangan seusai pertandingan. Diamatinya tiang itu baik-baik. Kemudian pandangannya beralih pada sepatu sang pemain basket. Tak ada apa-apa di balik sepatu tersebut, tak ada jet turbo, tak ada peer, atau apapun yang membuat si pemain bisa melompat ke atas setinggi itu sampai dapat memasukkan bola. Dan tiang yang dilihatnya dari luar lapangan, memang nyata tingginya, bukan hanya fatamorgana. Tetapi mengapa? apakah tiang itu tidak terlalu tinggi?

Sang ayah kemudian menjelaskan dengan sangat detail, mengapa para pemain basket itu bisa memasukkan bola ke dalam ring. Rahasianya ada di dalam lompatan dan kekuatan tangan para pemain, dengan gerakan yang tepat, makashoot! bola pun masuk ke dalam ring. 

Curtis, pria kelahiran Baltimore ini pernah diragukan, apakah ia dapat berhasil mencetak skor dengan tinggi tubuhnya yang hanya 160 cm. Bisa dilihat, buktinya ia bisa. 

Target yang ia bidik saat menembak bola memang jauh lebih tinggi dari tubuhnya, tetapi Curtis melompat penuh kepercayaan diri, dengan tambahan teknik tangannya, ribuan bola masuk tepat ke dalam ring dan menghasilkan angka-angka pembawa kemenangan teamnya. 

Jadi, apakah 'tiang' itu masih terlihat terlalu tinggi untuk Anda? Terlalu tinggi untuk dicapai oleh Anda? 

Terkadang memang kita berpikir bahwa target yang kita hadapi di dalam hidup ini terlalu tinggi, bahkan hampir mustahil untuk mencapainya. Tetapi, justru target memang dibuat tinggi agar kita dapat mencapainya. Setidaknya apabila memang tidak tepat tercapai sesuai angka yang dipasang, kita bisa mendekati angka tersebut. Itulah yang disebut dengan USAHA  Sumber

Sabtu, 11 Februari 2012

Fokus Pada Kemungkinan

Kita semua memiliki kemungkinan yang tak terhitung ada dalam diri kita. Yang penting adalah tidak membiarkan pikiran negatif menghalangi kita. Seorang guru belajar ini suatu hari ketika ia bertanya kepada siswa kelas tiganya apa yang mereka inginkan menjadi apa ketika dewasa nanti.
Tanggapan menggema di seluruh ruangan.
“Seorang pemain sepak bola,” kata seorang anak laki-laki.
“Seorang dokter,” kata seorang anak perempuan.
“Seorang astronaut,” kata yang lain.
“Jadi presiden,” kata beberapa yang lain.
Guru memperhatikan satu anak duduk diam dan mendengarkan saja.
“Tommy?” tanyanya. “Ingin jadi apa bila sudah besar nanti?”
Tommy berpikir untuk waktu yang lama. Akhirnya dia menjawab dengan satu kata: “Kemungkinan.”
“Mungkin?” tanya sang guru.
“Ya,” kata Tommy. “Ibu saya selalu mengatakan, saya mungkin .... Jadi ketika saya besar nanti, saya ingin menjadi mungkin.” (Bits&Pieces) Sumber

Ford, Ternyata Mantan Model

Gerald Ford sesungguhnya lahir dengan nama Lieslie Lynch King, Jr. Namun saat ia dua tahun, kedua orangtuanya bercerai. Ibunya lalu menikah dengan Gerald Rudolph Ford, yang secara resmi mengangkatnya sebagai anak. Rahasia ini terjaga sampai Ford duduk di bangku sekolah menengah atas, gara-gara ayah kandungnya datang dan membeberkan kenyataan sebenarnya.
Meski tahu sebagai anak angkat saat berumur 16 tahun, Ford tidak berkecil hati. Malah Ford yang gagah itu ternyata mampu mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. Salah satunya, ia pernah menjadi model, tepatnya dalam Look Magazine ia tampil dalam iklan sebuah tempat untuk bermain ski.
Kemampuan lain yang diasahnya adalah sebagai pemain sepak bola Amerika. Malah ketika di Universitas Michigan, ia dijuluki Pemain Paling Berharga. Ia ditawari bekerja sebagai pemain profesional oleh dua klub besar, tapi malah menjadi pelatih di Yale, tempatnya menuntut ilmu hukum di kemudian hari.

Kelak di kemudian hari Gerald Ford dikenal sebagai presiden ke-38 Amerika Serikat. Masa pemerintahan dari tahun 1974 - 1977. Sumber

Sendainya Harga Rokok Bisa Sangat Mahal

Salah satu organ tubuh yang rentan terkena bahaya rokok adalah jantung. Bahkan hasil penelitian menunjukan bahwa rokok menyumbang 15 persen faktor risiko penyakit jantung. Ketika penyakit tersebut menyerang, yang sering muncul adalah rasa penyesalan. Seperti penuturan seorang rekan saya tentang sahabatnya yang beberapa waktu yang lalu meninggal dunia.
Rekan saya mengenal sahabatnya tersebut ketika sama-sama berada di organisasi pecinta alam sebuah perguruan tinggi. Dia mengenang sahabatnya sebagai orang yang jenaka, suka menjahili orang, dan “rajanya” nyela kawan-kawan di organisasi. Umurnya sama, tahun ini menginjak awal 50 tahun. Salah hal lagi yang dikenang adalah kebiasaan merokok sahabatnya tersebut. Dalam satu hari 5 bungkus rokok bisa dihabiskannya.
Beberapa waktu lalu rekan saya mengunjungi sahabatnya tersebut, yang tergolek lemah di sebuah rumah sakit jantung. Sejak tahun 2003, berbagai alat pacu jantung pernah dipakai sejak dokter memvonisnya memiliki penyakit jantung.
Kedatangan rekan saya disambut senyum dan tawa sang sahabat. Saat itu juga rekan saya mendengar cerita bahwa uang yang dihabiskan sahabatnya untuk membuat jantungnya tetap berfungsi sudah hampir mencapai Rp 2 miliar. Maklum, sekali pasang alat pacu jantung Rp 80 juta harus dikeluarkan. Itu belum termasuk biaya rawat inap dan obat-obatan yang harus ditebus.
Sang sahabat berharap tidak ada lagi manusia yang mengidap penyakit yang (menurut istilah sang sahabat) “mahal” tersebut. Selain itu, dia berujar bahwa seharusnya harga rokok dibuat semahal mungkin. Sehingga, hanya orang kaya yang dapat merokok, dan tentunya menderita “penyakit mahal” tersebut.
Hari Minggu 5/2/2012, rekan saya mendapat kabar bahwa sahabatnya tersebut telah meninggal dunia. Tentu saja karena penyakit jantungnya.
Ah, kalau memang tidak bisa dilarang, harusnya rokok dihargai sangat mahal. Kalau perlu dilengkapi asuransi yang berguna ketika bahayanya mulai menggerogoti kesehatan penghisapnya. Sumber

Seberapa Baik Tangan Anda Bermain?

Voltaire pernah berkata, “Hidup ini seperti permainan kartu. Setiap pemain harus menerima kartu yang ditawarkan kepadanya. Dengan kartu di tangan, setiap orang harus memutuskan bagaimana tangan akan memainkannya untuk memenangkan permainan.”
Seorang pria yang mengerti alasan ini adalah seorang salesman muda sukses yang yakin pemahaman tentang hubungan manusia dan berbicara di depan umum adalah kunci keberhasilan, dan ia bisa mengajarkan prinsip-prinsip ini. Dia mendekati Jalan 23 YMCA di New York tentang kemungkinannya mengajar di tempat kursus baru.

Direksi enggan – merasa itu adalah konsep yang belum teruji, dan bisa membuat depresi. Namun, mereka akhirnya setuju untuk memungkinkannya melakukan apa saja serta setuju untuk dibayar hanya berdasarkan komisi dan bukan biaya pengajaran yang hanya AS$ 2. Dalam beberapa tahun pemuda itu menerima komisi AS$ 30 semalam.
Salah satu muridnya adalah seorang eksekutif yang menyarankan materi dikumpulkan menjadi sebuah buku. Pemuda itu setuju, dan penjualannya merupakan daftar tetap di The New York Times sebagai best seller bukan hanya selama berminggu-minggu atau bulan, namun selama 10 tahun. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sampai hari ini, ratusan ribu kopi buku dijual setiap tahunnya. Buku itu adalah How To Win Friends and Influence People (Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain).

Siapa pemuda itu? Pasti Anda semua sudah tahu. Ya, dialah Dale Carnegie. (Bits&Pieces) Sumber

Hari Terakhir

Cerita ini tentang seseorang yang pergi berziarah mencari seorang pertapa. Ketika ia menemukannya, ia bertanya kepada sang pertapa, “Jika Anda tinggal mempunyai satu hari lagi untuk hidup, bagaimana Anda mempergunakan hari itu?”
Pertapa tua mengusap janggutnya yang putih dan panjang, lalu berkata, “Baiklah. Pertama-tama, saya akan berdoa pagi. Setelah itu, saya akan minum teh dan pergi menyirami tanaman. Kemudian, saya akan menjungi tetanggaku. Lalu, saya tidur siang.”
“Lo,” orang itu memotong pembicaraan, “itu kan sama saja dengan hidup Anda setiap hari?”
“Memang,” jawab si pertapa, “dan mengapa hari terakhir harus berbeda dengan hari-hari lain?” Sumber