Selasa, 31 Januari 2012

Manfaatkan Hari Ini


Ada dua hari di setiap minggu yang tak perlu dirisaukan. Justru sebaiknya dibebaskan dari kekhawatiran dan keprihatinan. Salah satu di antaranya adalah KEMARIN, plus segala sesuatu yang sudah menjadi "miliknya", seperti kesalahan maupun perhatian, cinta kasih maupun penderitaan.

KEMARIN sudah lewat, di luar jangkauan kendali kita. Bahkan bila uang yang beredar di dunia dikumpulkan pun tidak akan bisa mengembalikannya. Kita tak bisa menarik lagi satu pun tindakan yang sudah kita lakukan; tidak bisa menghapus satu pun kata-kata yang pernah kita ucapkan; dan tidak bisa meralat sebuah kesalahan yang terlanjur terjadi. KEMARIN sudah lewat jauh di belakang. Biarlah ia pergi dengan tenang.
Hari lain yang juga tidak perlu kita khawatirkan adalah BESOK, dengan semua "rencananya". Begitu pula, BESOK juga hari yang di luar jangkauan kontrol kita langsung. Matahari tentu masih akan bersinar. Namun entah sinarnya terang benderang indahnya atau tertutup gumpalan awan, kita tak tahu. Sampai saatnya ia muncul nanti, kita tak bisa meramal apa yang akan terjadi BESOK.
Dari kedua hari yang telah disebut di muka, tinggal satu hari lagi yang tersisa, yakni hari ini atau SEKARANG. Seseorang bisa memenangkan sebuah pertempuran dalam sehari. Menyesali apa yang sudah terjadi kemarin, serta memperkirakan apa yang akan muncul besok, tidak akan mendapatkan banyak manfaat. Oleh karena itu apa pun yang bisa kita kerjakan hari ini, selesaikan hari ini juga. (Robert J. Burdette) Sumber

Meniti Karier Dengan Ilmu Air

Ketika baru menjadi pegawai di suatu lembaga pemerintahan, saya tak punya pikiran soal karier ke depan. Saya hanya menjalaninya saja, menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab sebagai staf dari hari ke hari dengan senang hati.

Ketika sudah menyelesaikan kuliah S-1 Hukum pun, tidak pernah terbesit untuk buru-buru mengikuti penyesuaian ijazah agar segera bisa naik Golongan III seperti hampir semua teman-teman seangkatan saya. Singkatnya, saya senang ini semua berjalan lancar tanpa perlu pusing-pusing pikir tingkat tinggi.

Hingga hampir tujuh tahun menjadi pegawai, dengan perencanaan yang santai dan mengalir dengan sendirinya, ternyata semua yang saya impikan telah terpenuhi. Menikah, punya anak, punya rumah dan kelengkapannya sama seperti kebanyakan orang.

Di lain sisi saya justru melihat kebanyakan teman-teman saya yang memegang tanggung jawab dan punya obsesi karier di kemudian hari justru tidak bisa menikmati hal seperti yang saya rasakan. Terkekang dengan aksinya untuk mengejar tingkatan yang lebih tinggi. Terkekang dengan tanggung jawab yang mungkin tiba belum saatnya.

Ini membuat saya berpikir, kenapa kita harus bersusah payah memaksakan hati dan pikiran menggapai kesempatan padahal belum waktunya? Mengapa harus memasang obsesi yang terlalu berlebihan jika saat yang tepat akan datang dengan sendirinya?

Lalu saya ingat bahwa menjalani sesuatu dengan jeruji yang kita ciptakan sendiri lebih banyak menimbulkan risiko kecewa di belakang hari. Coba Anda bayangkan saat sedang mengejar mimpi dan obsesi namun tidak bisa menikmati waktu bersama keluarga. Juga ketika Anda bergelut dengan rencana-rencana besar di setiap menitnya namun lupa bagaimana menikmati anugerah dari Tuhan di menit yang sama. Tidakkah kita menyesal melewatkan detik-detik yang seharusnya menjadi milik kita saat masih tepat pada waktunya?

Maka saya pun berpikir, ada benarnya juga nasihat orang tua yang pernah saya kenal dulu. "Jalanilah kehidupan ini seperti air mengalir. Tenang, tapi punya kekuatan. Ada saatnya bergelombang, ada saatnya riak kecil, tapi tetap saja mengalir pada muaranya." Sumber

Sepasang Flat Shoes

Jangan setengah-setengah saat ingin melakukan suatu pembaruan, hal yang remeh sekalipun akan memberikan efek yang besar

Saya sangat menyukai stiletto dengan heels tinggi menjulang. Tidak hanya itu, saya juga penyuka minuman beralkohol, dan suka lupa diri saat bersama teman-teman atau saat sedang suntuk. Kali terakhir yang membekas di pikiran, saya terjerembab dari tangga dan mengakibatkan cidera yang lumayan parah.

Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti minum dan menemui terapis yang membantu saya untuk keluar dari kebiasaan buruk ini. Setelah sekian lama menjalani terapi, di akhir program terapis saya mengatakan bahwa saya harus mengubah semua hal di hidup saya. Semuanya. Memang sih, tidak hanya soal minum, saya juga punya gaya hidup yang tidak sehat baik dari segi kesehatan itu sendiri maupun keuangan, apalagi dari sisi religius.

Perubahan ini juga termasuk cara saya berpakaian. Mini skirt yang ketat harus saya ganti dengan skirt pas badan dengan potongan yang lebih sopan; blouse yang seksi juga saya ganti dengan shrit dan cardigan yang lebih casual. Namun untuk heels tinggi menjulang ini, rasanya saya masih berat untuk tidak lagi mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari saya. Maka saya pun merayu si terapis agar diijinkan tetap mengenakan stiletto untuk ke kantor dan aktivitas sehari-hari.

"Saya sudah yakin tidak ingin kembali minum kok, jadi seharusnya aman-aman saja kan kalau saya memakai stiletto?", pinta saya. Namun terapis saya menjawab, "Itu menunjukkan kamu tidak sungguh-sungguh mau berubah". Saya berpikir kesembuhan saya dari kecanduan minuman keras bisa diragukan jika saya ngotot melawan, maka saya menurut saja sambil berjanji akan mencobanya dalam 30 hari ke depan.

Jadilah saya membeli sepasang flat shoes yang tampaknya nyaman. Setelah mengenakannya selama dua minggu, saya baru sadar bahwa kaki saya terasa lebih nyaman dan rasa pegal-pegal di malam hari seusai beraktivitas tidak saya rasakan lagi. Alhasil, saya masih punya kekuatan untuk melakukan workout sesampai di rumah, dan masih sanggup berdiri sejenak di dapur untuk menyiapkan makan malam yang saya buat sendiri.

Maka di malam bulan purnama saat itu saya punya sedikit waktu untuk merenung sebelum pergi tidur. Saya seringkali mengorbankan kenyamanan dan kesehatan untuk tampil gaya dan mengikuti trend. Tanpa saya sadari, ada banyak hal lain yang harus saya korbankan juga seperti waktu dan tenaga yang seharusnya bisa saya pakai untuk melakukan banyak hal berguna.

Saya bisa berjalan lebih cepat dengan flat shoes ketimbang dengan stiletto. Saya juga tidak segan-segan berlari mengejar taksi atau menjangkau barang yang tinggi di supermarket dengan baju yang sopan dan nyaman. Tanpa pengaruh alkohol, saya bisa lebih peka dengan kehidupan teman-teman saya, tidak sekedar bersenang-senang saja. Sepasang sepatu flat shoes baru telah menjadi tonggak perubahan hidup saya. Anda pun juga bisa mengubah seluruh hidup hanya dengan satu langkah kecil yang sepertinya remeh. Temukan apakah langkah kecil itu dalam hidup Anda.Sumber

Minggu, 22 Januari 2012

Percayalah, Ada Yang Menopang Hidup Anda

Percaya pada kemampuan diri sendiri memang penting, tetapi jangan lupakan hal lain yang menopang hidup Anda!

Pada sebuah acara camping yang dilakukan sekelompok pemuda-pemudi, ada sebuah permainan yang dinamakan Percaya Pada Temanmu. Permainan ini mengharuskan seseorang menjatuhkan diri dari ketinggian pada barisan teman-temannya yang siap menangkap tubuh yang jatuh.

Syarat permainan ini, harus jatuh dengan posisi membelakangi teman-teman mereka, sehingga pemuda atau pemudi yang menjatuhkan diri dari ketinggian harus percaya bahwa teman-temannya mampu menopang tubuh yang jatuh.

Walau terlihat mudah, tak banyak yang mau melakukan permainan ini. Takut dan tidak percaya dengan teman-teman mereka menjadi alasannya. Mereka takut terjatuh dari ketinggian karena menganggap teman-teman mereka tak mampu menopang berat tubuh.

Banyak yang gagal saat permainan dilakukan, karena mereka yang menjatuhkan diri banyak yang tidak percaya. Lalu seorang pemuda dengan tubuh gemuk mencoba menjatuhkan diri. Banyak yang menduga bahwa pemuda itu akan jatuh karena tubuhnya gemuk sehingga teman-temannya tak akan mampu menopang tubuhnya.

Sang pemuda tetap santai, dia memejamkan mata dan jatuh dengan kepercayaan penuh bahwa teman-temannya mampu menopang tubuhnya walau gemuk. Dan ya.. dia berhasil. Teman-temannya berhasil menopang tubuh sang pemuda yang menjatuhkan diri dari ketinggian.

Dari permainan mudah itu, kita dapat belajar bahwa saat kita jatuh dan tak dapat melihat jalan keluar, ada banyak tangan yang siap menopang tubuh Anda. Syaratnya hanya satu, Anda harus percaya bahwa orang lain mampu menopang Anda. Anda tidak boleh takut bahwa mereka akan membuat Anda makin jatuh dan sakit. Jika Anda tak percaya dengan mereka, bagaimana mereka bisa percaya pada Anda? Sumber

Ketika Bunda Teresa Melontarkan Joke

Untuk membangkitkan semangat anak buahnya, mendiang Ibu Teresa sering melontarkan joke-joke ringan. Salah satunya begini:
Seorang pelancong mengalami nasib sial. Mobilnya mogok di daerah yang amat tandus dan jauh dari pemukiman penduduk. Yang ada di dekat situ hanyalah sebuah biara, dan alat transportasi yang dapat ditawarkan para biarawan di sana cuma seekor keledai. Kita tahu, keledai dikenal “keras kepala” dan kurang cerdas.

Akan tetapi, karena ia harus tiba di suatu tempat malam itu juga, si pelancong menerima tawaran itu. Biarawan itu pun membisikkan “rahasia” menangani si keledai. Dikatakan, si penunggang harus mengatakan, “Amin, amin,” bila ingin supaya keledai itu berhenti. Bila ingin maju, ia harus mengatakan, “Syukurlah, syukurlah.”
Perjalanan berlangsung dengan lancar tanpa masalah, sampai suatu ketika tampak jurang menganga di hadapan mereka. Untung, meski dengan gugup, penunggangnya sempat mengucapkan, “Amin, amin!” sehingga keledai berhenti pas di bibir jurang. Namun karena leganya, si penunggang spontan mengatakan, “Syukurlah, syukurlah!”  Maka bisa dibayangkan apa yang segera dilakukan si keledai. Keduanya langsung tercebur ke jurang.
Anak buahnya yang tergabung dalam Serikat Rekan Kerja Ibu Teresa, tertawa terbahak-bahak karena joke itu sebenarnya nyerempet Ibu Teresa sendiri, yang gemar sekali mengucapkan “syukurlah” di mana dan kapan saja. (Mother Teresa The Spirit and The Work/Intisari)

Jumat, 20 Januari 2012

Wanita Sempurna

Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi di sebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?” ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
“Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu di Bandung, saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir inilah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata di masa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ. “
“Di Jakarta, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.”
“Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selam ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.”
“Lantas,” sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan. “Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?” Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, “Baru belakangan aku ketahui ia juga sedang mencari pria yang sempurna.” Sumber

Kamis, 19 Januari 2012

Apa Definisi Orang Terkenal?

Pepatah yang mengatakan "rambut sama hitam tetapi pendapat orang tidak akan sama" cocok untuk melukiskan kisah di bawah ini. 

Suatu hari ada tiga orang bersaudara terlibat perdebatan sengit, mempersoalkan apa artinya menjadi orang terkenal. Masing-masing pihak mempunyai pendapat sendiri. Terserah siapa di antara mereka yang menurut Anda paling benar dalam mengartikan kata “terkenal”.
Orang pertama mengatakan, “Menjadi terkenal itu bila saya diundang ke Istana Negara dan diajak ngobrol oleh presiden.” Namun penjelasan tersebut ditolak oleh orang kedua.”Tidak begitu! Menjadi terkenal itu kalau saya diundang oleh Presiden ke Istana Negara dan ketika saya ngobrol, tiba-tiba saluran hot line presiden berdering, tapi sang Presiden tidak menggubrisnya. Dia tetap asyik ngobrol dengan saya.”
Mendengar argumentasi ini, orang pertama terlihat manggut-manggut. Tak jelas, apakah itu tanda setuju atau malah tidak mengerti. Meski demikian, orang ketiga tetap menolaknya.

“Kalian berdua salah! Kita akan terkenal kalau bisa diundang untuk ngobrol-ngobrol dengan Presiden di Istana Negara. Nah, bila di tengah obrolan itu tiba-tiba saluran hot line berdering, sang Presiden akan mengangkatnya. Setelah mendengarkan suara telepon di seberang sana Presiden diam sebentar lantas berkata, ‘Oh, ya, telepon ini untuk Anda, Pak!’ ujar Presiden seraya menyerahkan gagang telepon itu kepadaku.”

Menurut Anda, apa artinya menjadi orang terkenal? Sumber